Menjadi keprihatinan bersama, bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan di sekolah-sekolah umum masih bersifat ajaran Islam yang dogmatis. Akibatnya, jika tidak memperdalam sendiri di luar sekolah, siswa Muslim dari sekolah  umum memiliki pemahaman yang kurang terhadap agama dan tidak mengerti dengan sempurna (kaffah).  Sementara , aspek kognitif dalam agama hanya diprioritaskan dalam diskusi. Untuk mempraktekkan, menghargai dan memahami kepercayaan Islam  (Aqidah) dan moral, sesungguhnya masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam di sekolah umum dari SD sampai dengan SLTA  harus mendapat pengembangan, modifikasi, inovasi, dan program pembelajaran tambahan, sehingga tujuan integral pendidikan Islam dapat tercapai.

 

Berangkat dari permasalahan tersebut,  Dosen IAINU Kebumen, Sudadi melakukan riset untuk menemukan desain kurikulum pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang ideal (bisa memenuhi harapan) menjadikan generasi Muslim memahami dan menerapkan cara beragama Islam yang kaffah. Untuk melahirkan sistem pembelajaran PAI yang lebih optimal  diterapkan di sekolah-sekolah umum, Sudadi melakukan riset survey dengan  kajian bibliografi dan kerja lapangan secara interaktif tentang penerapan Pendidikan Agama Islam di SMA Ma’arif Kebumen.  Menurut Promovendus, sekolah ini telah menerapkan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Pesantren.  

 

Dalam abstaksi disertasinya, Promovendus menjelaskan, bahwa di Kebumen   ada  sejumlah lembaga Madrasah Ibtidaiyah  (MI) Ma’arif, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ma’arif, Madrasah Tsanawiyah  (MTS) Ma’arif,  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  Ma’arif dan Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif. Lalu pihaknya melakukan penelitian di  SMK dan SMP Ma’arif sebagai sekolah umum yang telah menerapkan PAI berbasis Pesantren., dimana pelaksanaannya bertumpu pada kajian kitab-kitab salafi, yang terlingkup dalam aspek-aspek  al Qur’an dan Hadis, Aqidah (keimanan), Akhlak, Fikih (ibadah), dan Tarikh Islam, sampai pada Sejarah Kebudayaan Islam.  Proses pembelajaran berbasis kajian-kajian aspek potensi koknitif-intelektual  berlanjut kepada pengembangan aspek potensi emosional, sosial, spiritual, kreatifitas dan fisik.