Teliti Kedinamisan Prosentase Zakat Dalam Rangka Memaksimalkan Kemaslahatan Umat

Gusnam Haris Raih Doktor Ke 662

Zakat merupakan sumber dana yang paling potensial dibanding banyak potensi ekonomi yang di tawarkan dalam Islam. Selain kewajiban umat Islam, zakat mempunyai nilai pada dimensi moral, sosial dan ekonomi. Melihat potensi zakat untuk kemaslahatan umat yang demikian besar ini, Indonesia memiliki Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang dikendalikan oleh Pemerintah. Baznas telah melakukan penelitian bekerjasama dengan IPB tentang potensi zakat per tahun, yakni sebesar 217 trilyun. Sementara pengumpulannya baru 6 trilyun (baru 3%).  Angka tersebut mengindikasikan potensi zakat di Indonesia yang sesungguhnya luar biasa untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat miskin, jika potensi zakat ini dimaksimalkan.

Dalam upaya memaksimalkan pengumpulan potensi zakat di Indonesia, Gusnam Haris melakukan penelitian kepustakaan  tentang kedinamisan prosentase zakat.  Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum ini mengangkat pemikiran Yusuf Al-Qaradawi dalam karya besarnya yang berjudul  Fiqh al-Zakah.  

Karya  riset Gusnam Haris dipresentasikan untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ekonomi Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karya Riset Promovendus berjudul “Persentase Zakat Menurut Yusuf Al - Qaradawi dan Urgensinya Bagi Penerapan Zakat oleh Baznas di Indonesia,” dipresentasikan di hadapan tim penguji: Dr. Moh. Tantowi, M. Ag., Prof. Dr. H. Kamsi, MA., Dr. H. Fuad, MA., Prof. Dr. H. Abd. Salam Arief, MA., (promotor merangkap penguji), Dr. H. Agus Moh. Najib, M. Ag., (promotor merangkap penguji). Senin, bertempat di ruang promosi Doktor, kampus setempat, 8/6/19.

Di hadapan tim penguji Gusnam memaparkan, Fiqh al-Zakah memiliki kaitan yang erat dengan Baznas di Indonesia. Pengelola zakat, terutama Bazis  DKI Jakarta sebagai cikal bakal Baznas pernah meminta kepada Himpunan Penterjemah Indonesia untuk menterjemahkan Fiqh al-Zakah ke dalam Bahasa Indonesia. Sejak munculnya terjemahan Fiqh al-Zakah dengan judul buku terjemahan Hukum Zakat, Bazis BKI Jakarta dan Baznas menjadikan karya itu sebagai rujukan utama untuk pengelolaan zakat di Indonesia. Namun dalam persoalan prosentase zakat, Baznas tidak merujuk pada pemikiran al-Qaradawi. Baznas memakai prosentase zakat tetap, sementara al-Qaradawi menawarkan prosentase zakat dinamis.