Studium Generale dan Launching Konsentrasi Kajian Industri dan Bisnis Halal

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Studium Generale yang mengusung tema “Halal life style: Kelas Menengah dan Industri Halal di Asia Tenggara”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa 21 September 2021 melalui Zoom Cloud Meetings yang dihadiri oleh seluruh Mahasiswa Baru Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen dan Peserta Umum. Acara ini sekaligus launching konsentrasi baru “Kajian Industri dan Bisnis Halal” S2 Program Studi Interdisiplinary Islamic Studies (IIS) Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diawali dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Magister Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr, Nina Mariani Noor, MA dan dilanjutkan sambutan oleh Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, S.Ag., M.Ag.

Narasumber pada Studium Generale ini adalah Ass. Prof. Dr. Betania Kartika, MA dari Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) yang dimoderatori oleh Dr. Ita Rodiah, M.Hum, dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Diawali dengan pengenalan tentang Internasional Institute for Halal Research and Training (INHART). INHART didirikan di Universitas Islam Internasional Malaysia oleh Senat IIUM (Maret 2011) dan Majlis IIUM (April 2011) dan mendapat persetujuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia pada Agustus 2011. INHART bertujuan untuk melatih pemimpin masa depan di arena industri halal serta untuk menyediakan kebutuhan sumber daya manusia yang terlatih dan bertanggung jawab yang diperlukan dari industri halal yang berkelanjutan terkait dengan penelitian, pengembangan, inovasi dan komersialisasi produk halal dan toyyib (makanan, farmasi, kosmetik, perawatan pribadi dan produk konsumen lainnya) serta berbagai industri jasa yang sesuai syariah seperti pariwisata dan perhotelan.

Kemudian, Ass. Prof. Dr. Betania Kartika menyampaikan bahwa berbicara mengenai halal, terdapat beberapa catatan diantaranya: Pertama, halal tidak sekadar label, tetapi telah berevolusi menjadi lifestyle. Kedua, halal lifestyle tidak sekadar soal gaya hidup kaum Muslimin (sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT), tetapi juga dapat menjadi kebaikan bagi semua umat (mengingat aspek2-aspek halal bersifat universal dan tentunya menguntungkan bagi non-Muslim). Ketiga, halal lifestyle tidak dapat dipungkiri telah berkembang pesat selama dua dasawarsa terakhir, baik pada tingkat nasional bahkan global. Data dari The State of the Global Islamic Economy Report 2019/2020 melaporkan besaran expenditure makanan & gaya hidup halal umat muslim di dunia mencapai US$2.2 T (2018) dan diperkirakan akan meningkat mencapai US$3.2T (2024).

Semakin meningkatnya populasi muslim di seluruh dunia artinya hal ini dapat menjadi potential market bagi halal industry (dengan cara mengambil seluruh proses halal yang sangat prospektif ini dengan menjadi market maker. Potensi halal lifestyle mampu mendorong perekonomian dan memberi peluang yang besar untuk berkembang (yang ditandai dengan geliat dunia usaha industri produk halal). Dengan target market-nya adalah kelompok pasar muslim kelas menengah yang merrpakan peluang untuk menumbuhkan industri halal (mengapa target marketnya adalah kelas menengah, alasannya: disamping karena populasinya yang besar, juga halal awareness-nya tinggi) misalnya halal food, halal beauty-cosmetics, halal fashion, halal healthcare, halal travel, halal farmacy-medicine, halal dan sebagainya.

Kesadaran umat Islam untuk memiliki halal lifestyle harus diikuti dengan kesadaran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai syariat Islam (hal ini kemudian menjadi peluang bisnis dan menguatkan perekonomian (Muslim khususnya) dan tingginya potensi pasar produk halal menjadikan sertifikasi halal menjd suatu yg penting. Yang menjadi PR selanjutnya adalah halal lifestyle tidak boleh terhenti pada sertifikasi, tetapi harus juga memiliki industri halal, oleh karena itu, diperlukan halal ecosystem berupa insfrastruktur, human capital, service, government support (pembangunan kawasan industri halal dan pembenahan sertifikasi produk halal melalui penyederhanaan perizinan dan fasilitas biaya sertifikasi halal), policy-regulasi yang relevan yang tentunya memihak pada penguatan halal (yang tidak menyulitkan pengusaha dan masyarakat) dan lain sebagainya.

Yang menjadi discourse selanjutnya adalah trend halal lifestyle justru populer di negara-negara non-Muslim seperti AS (dikenal sbg eksportir halal food terbesar di dunia dengan pangsa pasar 10% dr ekspor halal food global), kemudian disusul oleh Brazil, Belanda, Cina, Jerman dll, bahkan negara tetangga seperti Philipina melirik industry halal sebagai penopang ekonomi nasionalnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah Pertama, apakah negara yang mayoritas penduduknya Muslim dapat menjadi pemain global dalam industry halal ataukah hanya menjadi konsumen terbesar produk halal dunia?. Kedua, Bagaimana dengan pangsa ekspor negara asia tenggara seperti Thailand, Indonesia, Philipine, Malaysia? Tentunya hal ini ini menjadi tantangan tersendiri bagi negara dengan penduduk mayoritas Muslimnya.

Hingga penghujung acara, Studium General ini berlangsung cukup kondusif dan diakhiri dengan tanya jawab antara peserta dengan narasumber. (IR & MJZ)