Dilihat 0 Kali

001_667_DSC09062.png

Rabu, 30 September 2026 09:24:00 WIB

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan SukaPress Gelar Peluncuran Buku The Art of Scientific Inquiry Karya Prof. Noorhaidi Hasan

Yogyakarta - Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkolaborasi dengan SukaPress menggelar peluncuran dan diskusi buku The Art of Scientific Inquiry: Menguasai Cara Berpikir, Meneliti, dan Menulis Ilmiah pada Selasa (29/9/2026) di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga.

Peluncuran buku karya Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan tersebut dipandu oleh Dr. Nina Mariani Noor, S.S., M.A. sebagai moderator. Kegiatan ini, menghadirkan tiga pembedah buku, yakni Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, sebagai pembedah pertama sekaligus pemberi sambutan; Fina Itriyati dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pembedah kedua; serta Najib Kailani, Ph.D., Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga sebagai pembedah ketiga.

Dalam pemaparannya, Prof. Noorhaidi mengungkapkan, keberadaan buku ini berangkat dari kegelisahannya terhadap fenomena penelitian di era Artificial Intelligence (AI) yang kerap menawarkan proses instan tanpa memperhatikan kedalaman proses riset.

Beliau menegaskan bahwa seorang sarjana seharusnya tidak sekadar bertugas menyelesaikan laporan penelitian, tetapi harus mampu menjelaskan realitas secara logis, teoritis, dan empiris demi berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. 

“Banyak peneliti yang tidak mengerti bahwa hasil penelitian seharusnya lahir dari jalan pemikirannya sendiri,” tegasnya.

Baca Juga: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Puspenma Kemenag Teken Kerja Sama Beasiswa PMLD dan Unggulan

AI dapat membantu peneliti, terutama dalam mencari sumber dan literatur yang relevan. Namun, pemanfaatan AI tetap perlu disertai kemampuan berpikir mandiri dan pemahaman yang kuat terhadap materi penelitian. AI tidak semestinya menggantikan proses membaca, yang menjadi bagian penting dari pembentukan seorang peneliti.


Sementara itu, Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, buku ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan tradisi akademik, terutama dalam memperkuat metodologi penelitian dan memperluas pemahaman tentang studi Islam.

Ia juga mengaitkan pembahasan buku dengan transformasi studi Islam di perguruan tinggi. Kajian keislaman, jelasnya, kini tidak hanya bertumpu pada pendekatan normatif-klasik seperti tafsir, kalam, dan tasawuf, tetapi juga berkembang melalui pendekatan ilmiah (scientific) dalam kerangka Religious Studies. Pendekatan antropologi, sosiologi, dan humaniora memungkinkan Islam dikaji sebagai fenomena sosial dan budaya.

Lebih lanjut, Prof. Nur Ichwan menyoroti pendekatan integrasi-interkoneksi yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Pendekatan ini membuka ruang dialog antara ilmu agama dan disiplin ilmu lainnya. Dalam konteks tersebut, metodologi penelitian menjadi salah satu aspek penting untuk menjembatani berbagai pendekatan keilmuan.

Pembedah kedua, Fina Itriyati, menyoroti pentingnya proses dan pengalaman dalam membangun kapasitas seorang peneliti. Ia mengapresiasi buku tersebut sebagai bahan pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa memahami penelitian secara menyeluruh, bukan sekadar mengikuti langkah-langkah teknis dalam menyusun karya ilmiah.

Menurut Fina, penelitian merupakan proses yang turut membentuk cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman menjalani proses penelitian, mulai dari merumuskan persoalan hingga menyusun kesimpulan, dapat melatih ketelitian, rasionalitas, dan kematangan berpikir.

Dr. Fina menekankan bahwa di tengah maraknya disrupsi AI, riset ilmiah dituntut untuk kembali pada esensinya sebagai sebuah "jalan sunyi" yang mengandalkan pengalaman langsung dan ketajaman metodologi. Riset sejati bukanlah sekadar hasil instruksi prompt instan, melainkan sebuah proses empiris yang membentuk pola pikir rasional, holistik, serta melahirkan kebijaksanaan (wisdom). Menurutnya, riset empiris seperti etnografi menjadi benteng utama dalam menjaga orisinalitas dari dominasi AI. 


Sementara itu, Najib Kailani, Ph.D. menggarisbawahi bahwa poin paling krusial dari buku ini terletak pada pentingnya rasa ingin tahu ilmiah (scientific curiosity) sebagai fondasi utama penelitian. Riset harus berawal dari rasa ingin tahu murni yang menggerakkan peneliti untuk membaca dan menyusun tinjauan pustaka secara mendalam, bukan sekadar menumpuk kutipan (sitasi) demi memenuhi prosedur teknis.

 “Tinjauan pustaka juga menumbuhkan sikap ilmiah yang mendasar, yaitu kerendahan hati intelektual,”  ujarnya mengutip salah satu kalimat dalam buku Prof. Noorhaidi.

Acara peluncuran buku berlangsung lancar dan dihadiri peserta dari berbagai kalangan. Antusiasme peserta, terlihat dari jumlah kehadiran yang memenuhi hampir seluruh ruangan Convention Hall. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan Book Signing bersama Prof.Noorhaidi Hasan.