Dilihat 0 Kali

001_218_isna dr.jpg

Selasa, 10 Maret 2026 08:47:00 WIB

GRS Ramadan (6): Meninjau Relasi antara Islam, Kesalehan (Piety), dan Feminisme

Yogyakarta - Forum GRS Ramadan yang diinisiasi Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP), diadakan pada Senin, 9 Maret 2026, di Ruang 206 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Dalam forum ini, Dr. Subi Isnaini hadir sebagai pengulas buku Mobilizing Piety: Islam and Feminism in Indonesia karya Rachel Rinaldo.

Tema tersebut dipilih karena kedekatannya dengan momentum peringatan Hari Perempuan Internasional, sehingga pembahasan mengenai relasi Islam, kesalehan, dan feminisme menjadi semakin kontekstual untuk didiskusikan.

Dalam pengantar diskusi, Dr. Isna membuka pembahasannya dengan pertanyaan reflektif mengenai alasan mengapa penelitian tentang relasi Islam dan feminisme dilakukan di Indonesia oleh seorang peneliti asal Amerika Serikat. Menurutnya, pilihan lokasi penelitian tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial-politik yang terjadi setelah runtuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998.

Masa Reformasi membuka ruang demokratisasi yang lebih luas, termasuk bagi organisasi masyarakat sipil, sehingga perempuan memperoleh peluang yang lebih besar untuk terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan politik. Selain itu, Indonesia memiliki posisi penting karena merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. 

Melalui pemaparannya, Dr. Isna mengajak peserta menelusuri perdebatan konseptual mengenai hubungan antara Islam, kesalehan, dan feminisme—tiga istilah yang kerap dipahami sebagai kategori yang saling berlawanan. Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan ilmu sosial sebelumnya, konsep agency sering dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur yang mengekang. Pandangan ini kemudian dikritik oleh Saba Mahmood melalui penelitiannya mengenai perempuan Muslim di Mesir, yang menunjukkan bahwa praktik kesalehan juga dapat menjadi bentuk agensi.

Baca Juga: GRS Ramadan (3): Mendaras Risalah Ibn ʿArabī Kepada Fakhruddin al-Rāzī

Mahmood mengembangkan gagasan tersebut dengan merujuk pada pemikiran Talal Asad mengenai agama sebagai tradisi diskursif. Dalam kerangka ini, Islam dipahami sebagai praktik yang terus berdialog dengan teks-teks fondasional, konteks sosial masa kini, serta kemungkinan masa depan. Berangkat dari perdebatan teoritis tersebut, Rinaldo kemudian mengembangkan analisisnya mengenai bentuk-bentuk agensi perempuan Muslim dalam konteks Indonesia.

Menurut Rinaldo, agensi tidak selalu hadir dalam bentuk resistensi terhadap struktur sosial. Ia juga dapat muncul sebagai upaya memperkuat identitas religius sekaligus membuka ruang partisipasi sosial yang lebih luas. Namun demikian, Rinaldo menilai bahwa pendekatan Mahmood cenderung menitikberatkan pada transformasi individual, sementara dinamika kolektif dalam gerakan perempuan belum sepenuhnya tergambar.

Dr. Isna menjelaskan bahwa Rinaldo mengidentifikasi tiga bentuk agensi yang berkembang dalam gerakan perempuan di Indonesia. Pertama, pious critical agency yang tampak pada Fatayat Nahdlatul Ulama dan Rahima, di mana perempuan mereinterpretasi teks keagamaan melalui kerangka kesalehan. Kedua, pious activating agency yang terlihat dalam aktivitas kader perempuan di Partai Keadilan Sejahtera yang memobilisasi partisipasi perempuan dalam struktur organisasi dan ruang publik. Ketiga, feminist agency yang diwakili oleh Solidaritas Perempuan, yang secara terbuka menggunakan pendekatan feminis dalam memperjuangkan keadilan gender.

Melalui pemetaan tersebut, Dr. Isna menegaskan bahwa hubungan antara Islam dan feminisme di Indonesia tidak dapat dipahami secara tunggal. Perempuan Muslim mengembangkan berbagai strategi untuk memadukan identitas religius dengan upaya pemberdayaan sosial. Dengan kata lain, kesalehan tidak selalu bertentangan dengan perjuangan feminis, melainkan dapat menjadi sumber daya moral dan kultural dalam memperjuangkan perubahan sosial.

Diskusi kemudian ditutup dengan pesan reflektif dari Dr. Isna kepada para peserta. Ia menekankan pentingnya menempatkan penelitian dalam kerangka perdebatan akademik yang telah berkembang sebelumnya.

“Ketika seseorang ingin melakukan penelitian, ia perlu berpijak pada diskusi dan perdebatan akademik yang sudah ada,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjelaskan mengapa pembacaan Dr. Isna terhadap buku Rinaldo diawali dengan pemaparan mengenai perdebatan teoritis. Dengan memahami landasan intelektual yang melatarbelakangi sebuah penelitian, pembaca dapat melihat bagaimana suatu karya ilmiah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari dialog panjang dalam tradisi keilmuan.

Baca Juga: GRS Ramadan (4) : Menelaah Kritik Tekstual Bible dalam Kitab Izhār al-Ḥaqq