Yogyakarta, (10/03/2026) – Masih mengangkat tema
feminisme seperti hari sebelumnya, Graduate Reading Space (GRS) kali ini membahas topik “Women and
Pop Culture". Pada kesempatan ini, forum yang diinisiasi oleh Keluarga
Mahasiswa Pascasarjana (KMP) menghadirkan Dr. Nina Mariani Noor,
Sekretaris Program Studi S3 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga sebagai narasumber.
Dalam diskusi yang digelar di Ruang 101 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga tersebut, Dr. Nina membedah book chapter yang
ia tulis bersama Prof. Euis Nurlaelawati, yang terbit dalam buku Routledge
Southeast Asian Islam berjudul “Muslim Women’s Dress in Southeast Asia".
Mengawali paparannya, Dr. Nina banyak bercerita mengenai
proses panjang menerbitkan tulisan di penerbit internasional seperti Routledge.
“Tulisan ini melalui proses yang sangat panjang. Butuh tiga tahun hingga akhirnya terbit,” ungkapnya.
Baca Juga: GRS Ramadan (6): Meninjau Relasi antara Islam, Kesalehan (Piety), dan Feminisme
Book chapter ini
menggabungkan setidaknya dua disiplin ilmu, yaitu hukum dan antropologi,
sebagaimana latar belakang akademik Prof. Euis dan Dr. Nina. Diskusi Dr. Nina dimulai
dengan membahas konsep ‘aurat’, —term yang merujuk pada bagian tubuh
yang harus ditutupi.
Bagi muslimah, menutup aurat merupakan salah satu cara
mengekspresikan ketaatan terhadap agama. Namun, medium yang digunakan sangat
beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya dimensi sosial dan
budaya.
Mengutip mendiang Prof. Azyumardi Azra, Dr. Nina
menjelaskan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung tanpa
peperangan membuat Islam relatif terbuka untuk berasimilasi dan beradaptasi
dengan budaya lokal. Karena itu, jilbab muslimah di Asia Tenggara memiliki
karakter yang khas dan berbeda dengan praktik berbusana muslim di wilayah lain.
“Jadi kalau kalian ketemu dengan jilbab seperti ini,
dimanapun itu, bisa dipastikan dia berasal dari Asia Tenggara; entah Indonesia,
Malaysia, dan negara lain,” ujar Dr. Nina.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nina juga bernostalgia
menceritakan pengalamannya ketika berada di luar negeri dan menemukan berbagai
model jilbab yang unik dan khas.
Ia menilai, cara muslimah menutup aurat sangat kreatif dan
beragam. Di satu sisi, mereka menunjukkan apresiasi terhadap lokalitas
budaya, sebagaimana tampak dalam busana pernikahan. Di sisi lain, mereka
juga berinteraksi dengan tren fashion yang terlihat dari terus
bermunculannya desain-desain jilbab yang mengikuti perkembangan zaman.
Diskusi kemudian ditutup dengan pesan Dr. Nina mengenai cara
menemukan sudut pandang dalam penelitian.
“Kalian tidak perlu memikirkan topik penelitian yang
muluk-muluk dan berharap mengejutkan dunia. Setiap fenomena keseharian yang ada
di sekitar kalian itu bisa menjadi ladang penelitian. Apalagi hari ini dengan
kehadiran media sosial, datanya bisa lebih kompleks dan kaya,” tutupnya.