Dilihat 0 Kali

001_892_nina.jpg

Jumat, 13 Maret 2026 14:00:00 WIB

GRS Ramadan (7): Membincang Pakaian Muslimah Asia Tenggara

Yogyakarta, (10/03/2026) – Masih mengangkat tema feminisme seperti hari sebelumnya, Graduate Reading Space (GRS) kali ini membahas topik “Women and Pop Culture". Pada kesempatan ini, forum yang diinisiasi oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) menghadirkan Dr. Nina Mariani Noor, Sekretaris Program Studi S3 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga sebagai narasumber.

Dalam diskusi yang digelar di Ruang 101 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga tersebut, Dr. Nina membedah book chapter yang ia tulis bersama Prof. Euis Nurlaelawati, yang terbit dalam buku Routledge Southeast Asian Islam berjudul Muslim Women’s Dress in Southeast Asia".

Mengawali paparannya, Dr. Nina banyak bercerita mengenai proses panjang menerbitkan tulisan di penerbit internasional seperti Routledge.

“Tulisan ini melalui proses yang sangat panjang. Butuh tiga tahun hingga akhirnya terbit,” ungkapnya.

Baca Juga: GRS Ramadan (6): Meninjau Relasi antara Islam, Kesalehan (Piety), dan Feminisme

Book chapter ini menggabungkan setidaknya dua disiplin ilmu, yaitu hukum dan antropologi, sebagaimana latar belakang akademik Prof. Euis dan Dr. Nina. Diskusi Dr. Nina dimulai dengan membahas konsep aurat, —term yang merujuk pada bagian tubuh yang harus ditutupi.

Bagi muslimah, menutup aurat merupakan salah satu cara mengekspresikan ketaatan terhadap agama. Namun, medium yang digunakan sangat beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya dimensi sosial dan budaya.

Mengutip mendiang Prof. Azyumardi Azra, Dr. Nina menjelaskan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung tanpa peperangan membuat Islam relatif terbuka untuk berasimilasi dan beradaptasi dengan budaya lokal. Karena itu, jilbab muslimah di Asia Tenggara memiliki karakter yang khas dan berbeda dengan praktik berbusana muslim di wilayah lain.

“Jadi kalau kalian ketemu dengan jilbab seperti ini, dimanapun itu, bisa dipastikan dia berasal dari Asia Tenggara; entah Indonesia, Malaysia, dan negara lain,” ujar Dr. Nina.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nina juga bernostalgia menceritakan pengalamannya ketika berada di luar negeri dan menemukan berbagai model jilbab yang unik dan khas.

Ia menilai, cara muslimah menutup aurat sangat kreatif dan beragam. Di satu sisi, mereka menunjukkan apresiasi terhadap lokalitas budaya, sebagaimana tampak dalam busana pernikahan. Di sisi lain, mereka juga berinteraksi dengan tren fashion yang terlihat dari terus bermunculannya desain-desain jilbab yang mengikuti perkembangan zaman.

 Salah satu poin penting yang muncul dalam diskusi siang itu adalah bahwa praktik menutup aurat tidak hanya dimaknai sebagai pemenuhan tuntutan agama. Lebih dari itu, praktik tersebut berjalan beriringan dengan upaya memperkenalkan identitas lokal sekaligus berpartisipasi dalam dinamika dan modifikasi fashion modern.

Diskusi kemudian ditutup dengan pesan Dr. Nina mengenai cara menemukan sudut pandang dalam penelitian.

“Kalian tidak perlu memikirkan topik penelitian yang muluk-muluk dan berharap mengejutkan dunia. Setiap fenomena keseharian yang ada di sekitar kalian itu bisa menjadi ladang penelitian. Apalagi hari ini dengan kehadiran media sosial, datanya bisa lebih kompleks dan kaya,” tutupnya.

 Baca Juga: GRS Ramadan (5): Mempertanyakan Kembali Konsep Religious Authority