Leuven, Maret 2026 - Kota Leuven
memang tidak seterkenal Brussels yang menjadi ibu kota Belgia, pun tidak
setenar Antwerp dengan berliannya. Namun kota kecil ini justru menjadi tempat
yang nyaman bagi pelajar dan mahasiswa. Ia merupakan tempat di mana KU
Leuven—kampus terbesar di Belgia—berdiri. Sebuah kampus bersejarah yang akan
menjadi destinasi akademik saya sebagai mahasiswa pertukaran selama satu
semester ini.
Kehidupan Awal sebagai Student Exchange
Saat pertama
kali datang dan menginjakkan kaki di Belgia, itu menjadi pengalaman musim
dingin pertama bagi saya. Suhu mencapai 3 derajat Celsius, menjadikan udara luar lebih dingin ketimbang
di dalam bandara. Beruntungnya, saya mendapat tumpangan—dari kawan warga lokal (warlok) Belgia yang sebelumnya mengikuti program pertukaran di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga—untuk menuju ke Leuven.
Hanya sekitar 40 menit berkendara, kami sudah tiba di Leuven. Tak disangka, waktu masih menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat dan matahari masih belum menampakkan dirinya. Sementara itu, janji temu saya dengan pemilik kamar kos masih dua jam lagi. Ketika saya menghubunginya, ia meminta saya untuk menunggu hingga waktu yang telah kami sepakati sebelumnya. Dari sini saya semakin percaya bahwa masyarakat Belgia begitu ketat terhadap waktu janji temu.
Baca Juga: Mahasiswa KU Leuven Rampungkan Studi Satu Semester di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
Beberapa hari setelahnya, saya mengikuti kegiatan orientasi di KU Leuven. Mereka memperkenalkan tentang kehidupan sosial dan administratif di Leuven. Mereka menjabarkan apa-apa saja yang harus dilakukan untuk tinggal dengan damai di sini. Mulai dari kewajiban mengurus izin tinggal dan asuransi kesehatan, hingga skema pemilahan dan pengambilan sampah yang sangat teratur di kota kecil ini. Maka wajar bila kota ini tampak begitu bersih dan terkelola dengan baik.

Universiteitsbibliotheek – Perpustakaan bersejarah milik KU Leuven yang berada tepat di depan Alun-alun Kota (Ladeuzeplein) | Dok. Penulis
Selang beberapa hari, tiba waktunya untuk orientasi fakultas. Dalam agenda ini, pihak fakultas menjelaskan dengan rinci terkait sistem administrasi dan akademik kampus. Bagaimana mengambil mata kuliah, menyusun jadwal, menghubungi dosen serta bagaimana cara menggunakan sistem aplikasi akademik dengan baik. Semuanya telah terstruktur dan tertata rapi. Jadwal perkuliahan, materi, skema ujian dan penilaian selama (tidak hanya 1 semester) 2 semester ke depan dapat dilihat secara online. Saya berharap ini dapat menjadi sebuah studi banding yang dapat diterapkan di kampus-kampus seluruh Indonesia.
Hal penting lain yang perlu dipelajari dalam masa awal ini adalah menghemat keuangan. Membeli makanan masak di Eropa memang cukup mahal bagi warga ekonomi Asia Tenggara (yang tergolong sebagai Non-EEA Country—Non-European Economic Area). Oleh karena itu, membeli bahan mentah dan memasaknya sendiri akan jauh lebih hemat. Selain itu, tidak semua restoran dan produk makanan menunjukkan keterangan halal. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi kita sebagai umat Muslim. Karena itu, mempelajari komposisi bahan makanan non-halal dan memasak makanan sendiri menjadi modal penting untuk bisa hidup dengan tenang di negara asing seperti Belgia.
Kehidupan Sosial di Leuven
Kota pendidikan
bukan hanya sekadar julukan bagi Leuven. Laqob
itu tercermin dari kehidupan weekday-nya
yang begitu ramai dengan lalu lalang mahasiswa. Tidak seperti di Indonesia yang
didominasi kendaraan bermotor, di sini hampir semua mahasiswa berjalan kaki dan
bersepeda. Mereka juga memanfaatkan transportasi umum sebagai moda transportasi
utama. Namun saat weekend tiba, kota
ini akan jauh lebih sepi. Sebagian besar mahasiswa dalam negeri akan pulang ke
rumah dan baru akan kembali pada Minggu malam. Bagi sebagian mahasiswa internasional, situasi ini terkadang menimbulkan rasa sepi. Namun bagi
sebagian yang lain, momen tersebut justru menjadi waktu yang pas untuk beristirahat dengan
tenang atau menikmati taman yang sunyi.

Suasana
sunyi Kota Leuven saat weekend tiba | Dok. Penulis
Leuven begitu terkenal akan birnya. Perusahaan bir terbesar di dunia hadir di kota ini. Maka, jika berbicara tentang kehidupan sosial di sini, sulit untuk melepaskannya dari budaya minum bir yang telah mengakar dalam masyarakat Belgia, khususnya di Leuven. Jika pada siang hari jalan-jalan dipenuhi oleh mahasiswa yang berlalu lalang, Leuven malam hari akan didominasi oleh bar dan klub di setiap sudutnya. Di sanalah para pekerja, mahasiswa dan warga setempat berbaur. Tempat dimana mereka bersosialisasi, mencari teman baru hingga pasangan.
Tak jarang, para mahasiswa juga mengadakan party di kamar kos dengan mengundang teman-temannya. Mereka ‘kongkow’ dengan banyak minuman dan camilan, serta musik upbeat sebagai pelengkap. Di dalamnya, sesekali mereka melakukan challenge seperti dilarang minum menggunakan gelas. Sehingga mereka menggunakan barang lain seperti teko, panci, hingga botol sabun pump dan corong yang disumpal sebagai alat untuk minum. Acara kecil nan meriah ini tentu tidak terbatas pada teman-teman yang berada di kota Leuven saja. Biasanya mereka turut mengundang rekan sejawat dari kota-kota tetangga. Momen ini tentu menjadi ruang pertemuan untuk saling memperkenalkan teman masing-masing dan menambah relasi.
Ramadan yang Berbeda
Dikutip dari Thearda.com,
umat Muslim Belgia pada tahun 2025 hanya sekitar 7,39%. Berbanding jauh dengan
umat Kristiani yang mendominasi sebanyak 63,71%. Sehingga, menjadi pengalaman
berharga bagi saya ketika mendapati bulan suci Ramadan di Belgia sebagai umat
minoritas. Kali pertama bagi saya menjalankan ibadah puasa Ramadan tanpa
adanya es pisang ijo dan gorengan.

Jamuan buka puasa masjid
IMSAL (International Moslem Students Association of Leuven) di tengah kota
Leuven | Dok. Penulis
Tidak seperti di Indonesia yang jumlah masjidnya melimpah, di dalam ring kota Leuven hanya terdapat 2 masjid yang menjadi destinasi spiritual umat Muslim. Tak seperti masjid Jogokaryan atau Nurul Ashri di Jogja yang melimpah makanan, kedua masjid ini menghadirkan menu berbuka yang sangat sederhana, kurma dan susu. Sesekali, tak jarang pula terdapat camilan lain yang cukup untuk mengganjal perut setelah menahan lapar seharian. Begitu sederhana, namun cukup untuk menghadirkan nuansa Ramadan yang hangat.
Dalam upaya menghormati bulan suci umat Muslim KU Leuven—meskipun ia merupakan universitas Katolik—juga mengadakan acara buka puasa bersama yang digelar oleh program studi Arabistiek en Islamkunde (Arabic and Islamic Studies). Acara itu tentu tidak hanya dihadiri oleh umat Muslim, tapi juga rekan-rekan dari agama lain seperti umat Kristiani yang juga tengah berpuasa dalam rangka menyambut hari Paskah. Momentum ini begitu hangat dan sarat akan makna toleransi. Lebih jauh lagi, saat waktu berbuka tiba, salah seorang mahasiswa mengumandangkan azan di tengah acara dan semua orang diam mendengarkan dengan hikmat. Benar-benar pengalaman Ramadan yang sangat berkesan yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di Indonesia.
Baca Juga: Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Suka, Raih Akreditasi Unggul BAN-PT