Dilihat 0 Kali

001_378_sunarwoto.jpg

Sabtu, 23 Mei 2026 19:01:00 WIB

Graduate Reading Space: Teknik Tubuh dan Otoritas Sosial dalam Pemikiran Marcel Mauss

Yogyakarta – Graduate Reading Space (GRS) kembali digelar di Aula Pascasarjana  UIN Sunan Kalijaga pada Selasa (19/5/2026). Diskusi menghadirkan Dr. Sunarwoto, S.Ag., M.A. sebagai pemantik untuk mengkaji pemikiran sosiolog dan antropolog asal Prancis, Marcel Mauss.

Pada pertemuan kali ini, diskusi berfokus pada karya klasik Marcel Mauss, Techniques of the body, yang membahas mengenai teknik-teknik tubuh. Dr. Sunarwoto menjelaskan bahwa meski tulisan tersebut hanya setebal 19 halaman, pengaruhnya dalam dunia intelektual sangatlah besar. Menurut Dr. Sunarwoto sebelum Mauss, studi mengenai tubuh memang sudah ada, namun umumnya terjebak pada dikotomi kaku antara nalar dan fisik, atau sekadar terbatas pada kajian ras dan silsilah nenek moyang.

Baca Juga: Graduate Reading Space: Meluhurkan Teori, Mengabaikan Praktik

Melalui pembacaan terhadap teks tersebut, Dr. Sunarwoto memaparkan tesis kunci Mauss bahwa gerak tubuh manusia bukanlah sesuatu yang bersifat alami atau biologis murni, melainkan hasil dari didikan, proses meniru, dan lingkungan sosial. Apa yang kita anggap sebagai gerakan alami tubuh kita, hanyalah manifestasi dari disiplin yang telah ditanamkan oleh otoritas. Kita tidak benar-benar bergerak atas dasar pilihan yang murni, melainkan karena telah dibentuk oleh arahan keluarga, tuntutan lingkungan, serta otoritas yang dihormati, yang perlahan-lahan menyetir bagaimana kita harus bertindak dalam keseharian.

Argumen Mauss mengenai hal ini menegaskan bahwa teknik tubuh sangat berkaitan erat dengan otoritas sosial dan kekuasaan. Tubuh manusia bukanlah entitas yang bebas, melainkan ruang yang telah diatur, dididik, dan dikonstruksi oleh kekuatan budaya serta politik.

Lebih lanjut, Dr. Sunarwoto menguraikan konsep habitus.. Jika dalam perspektif Pierre Bourdieu, habitus cenderung bekerja di ranah ketidaksadaran, maka bagi Mauss, habitus adalah kemampuan bertindak yang diperoleh secara sadar dan terstruktur. Sebagai contoh, ia menyinggung praktik wudhu dalam Islam. Menurutnya, praktik tersebut bukanlah tindakan instingtif, melainkan akumulasi dari ajaran yang diwariskan, dipelajari, dan disesuaikan dengan standar yang telah ditentukan oleh otoritas agama.

Diskusi yang berlangsung pada Selasa siang tersebut berjalan secara khidmat dan interaktif. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memperdalam pembahasan mengenai batasan antara kemauan individu dan konstruksi sosial yang membungkus gerak-gerik tubuh manusia. Sesi ditutup dengan penegasan bahwa dalam pandangan Mauss, tubuh tidak lagi menjadi milik personal yang otonom, melainkan sebuah entitas yang secara fundamental telah diatur dan dibentuk oleh otoritas atau kekuasaan.

GRS, merupakan ruang baca khusus, forum diskusi, dan kajian buku antar mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang diinisiasi oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP). Kegiatan ini digelar rutin, seminggu sekali.