Yogyakarta – Graduate Reading Space (GRS) yang dipromotori Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) kembali digelar di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga pada Kamis (21/5/2026). Diskusi yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa pascasarjana tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Machasin, M.A. sebagai pemantik untuk mengkaji pemikiran cendekiawan Muslim Mesir, Hasan Hanafi.
Pertemuan kali ini merupakan kelanjutan dari serial diskusi sebelumnya yang secara konsisten membedah karya besar Hasan Hanafi. Pada kesempatan ini, Prof. Machasin mengulas fase paling krusial, yakni transformasi dari metodologi pembacaan teks klasik menuju praksis gerakan sosial yang nyata.
Baca Juga: Diskusi Keilmuan: Melampaui Dekolonisasi dan Membangun Ilmu Mandiri di Nusantara
Prof. Machasin menjelaskan bahwa Hasan Hanafi secara tegas memperingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada kulit luar teks formal, atau sekadar bertaklid buta pada otoritas ulama terdahulu. Sebaliknya, generasi baru harus mampu menangkap makna substantif dari tradisi masa lalu.
Lebih jauh lagi, pemahaman tersebut tidak boleh berhenti sebagai wacana kaku. Hanafi mendesak agar makna teks ditransformasikan menjadi kesadaran kritis dan ideologi nyata.
"Namun, jalan pembaruan ini tidak pernah mudah," Prof. Machasin mengingatkan.
Beliau menambahkan bahwa para agen perubahan sering kali sulit bergerak dan berkembang di lapangan. Tantangan terbesar justru datang dari benturan dengan kelompok-kelompok mapan yang enggan beranjak, lantaran sudah terlanjur nyaman memegang teguh tradisi lama sebagai "pusaka sakral" yang tidak boleh disentuh oleh nalar kritis.
Dari dinamika tersebut, diskusi ini menyimpulkan bahwa pemikiran dalam Al-Turath wa al-Tajdid memberikan blueprint yang tegas bagi kaum intelektual bahwa pembaruan Islam wajib bergerak dari rekonstruksi pemahaman teks menuju emansipasi dan perubahan sosial di dunia nyata.
Pertemuan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian program GRS bersama Prof. Machasin untuk semester ini. Mengingat masa bakti kepengurusan yang akan segera berganti, kelanjutan diskusi dan bedah buku ini direncanakan bakal bergulir kembali pada semester depan, di bawah komando kepemimpinan KMP yang baru.
Baca Juga: GRS Ramadan (8): Menutup Rangkaian Ramadan dengan Isu Sejarah-Politik