Dilihat 0 Kali

001_379_DSC05886.JPG

Kamis, 07 Mei 2026 22:38:00 WIB

Diskusi Keilmuan: Melampaui Dekolonisasi dan Membangun Ilmu Mandiri di Nusantara

Yogyakarta - Dua narasumber terkemuka: Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan (Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga) dan Mohamed Imran Mohamed Taib (Founding Director Dialogue Centre Singapura) bertemu dalam satu forum diskusi keilmuan bertajuk "Melampaui Dekolonisasi dan Membangun Ilmu Mandiri di Nusantara".

Acara bergengsi yang diselenggarakan pada Rabu, 6 Mei 2026 di Aula Pascasarjana ini dimoderatori oleh Nina Mariani Noor, dosen sekaligus Kaprodi S3 Studi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Forum ini juga menjadi ajang peluncuran dan diskusi buku baru Imran Mohamed Taib, yang dieditnya bersama Nurul Fadiyah Johari, berjudul Syed Husein Alatas and the School of Autonomous Knowledge. Buku ini adalah sebuah karya yang mengangkat kembali warisan intelektual seorang pemikir besar dari dunia Melayu yang sering terlupakan.

Syed Husein Alatas: Pendahulu yang Terlupakan

Sebelum Edward Said meluncurkan kritik orientalismenya yang fenomenal pada tahun 1970-an, seorang intelektual kelahiran Bogor, 1926, telah lebih dulu merintis jalan. Dialah Syed Husein Alatas, pemikir yang lahir di masa kolonial Belanda, mengenyam pendidikan di Universitas Amsterdam, lalu mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan di Malaysia dan Singapura.

Baca Juga: Mengenal Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga: Profil, Keunggulan, dan Konsentrasi

Prof. Ichwan, dalam kesempatan tersebut menceritakan bagaimana ia secara khusus menyempatkan diri mencari jurnal Progresif Islam yang pernah diedit Alatas saat menempuh studi doktoral di Belanda.

"Saya pernah mencari itu dan bertemu di perpustakaan Amsterdam University dan saya fotokopi. Fotokopinya masih ada di rumah," ungkapnya dengan penuh nostalgi.

Salah satu poin paling penting dalam diskusi ini adalah penegasan bahwa ilmu mandiri bukanlah sekadar nama lain dari dekolonisasi. Prof. Ichwan menjelaskan perbedaan mendasar di antara keduanya. Gerakan dekolonisasi, meski memiliki kontribusi penting, cenderung hanya berfokus pada kritik terhadap Eurosentrisme. Sementara itu, ilmu mandiri yang digagas oleh Syed Husein Alatas dan dikembangkan oleh putranya, Syed Farid Alatas — lebih jauh daripada itu.

Akar kemunculan gagasan ini, berakar pada lima hal: pengalaman traumatik penjajahan kolonial Belanda dan Inggris, tradisi keilmuan Islam yang progresif, sejarah Melayu sebagai modal kemandirian, perdebatan sosiologi pada 1950–1970-an, serta realitas postkolonial Asia Tenggara.

"Kalau di sini dikatakan oleh Syed Farid Alatas: the autonomous knowledge approach to social sciences is critical of various hegemonic orientations beyond eurocentrism, which include: androcentrism, traditionalism, nativism, culturalism, ethno-nationalism, sectarianism, knowledge elitism and nihilism," ujar Prof. Ichwan.

Imran Mohamed Taib mempertegas bahwa dekolonisasi, yang kini menjadi wacana populer di kampus-kampus dunia, seringkali tidak dipahami secara mendalam. Akibatnya, dekolonisasi justru bisa berubah menjadi semacam imperialisme akademik baru.

"Sering kita tidak berpikir secara mendalam apa yang dimaksudkan dengan dekolonisasi, sehingga dekolonisasi itu menjadi semacam imperialisme akademik yang baru," tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengkritik orientasi dekolonisasi yang semata-mata membalikkan narasi: dari Eurosentrisme menjadi anti-Eurosentrisme, dari orientalisme menjadi oksidentalisme. Pemikiran biner semacam ini, menurutnya, justru mereplikasi kesalahan yang sama.

"Melihat Barat seolah-olah satu entiti yang buruk, kemudian solusinya adalah Asia yang segala-galanya baik dan tidak dikritik,” ucapnya.

Hal ini menurut Imran adalah false universalism atau universalisme yang palsu, di mana pengalaman satu konteks dipaksakan menjadi universal untuk semua.

Konsep Captive Mind dan Ketergantungan Akademik

Salah satu sumbangan terpenting Syed Husein Alatas adalah konsep captive mind, sebuah kondisi di mana para ilmuwan di dunia ketiga menggunakan teori-teori Barat begitu saja tanpa mempertimbangkan konteks kemunculannya. Imran Mohamed Taib menjelaskan mekanisme ini dengan gamblang.

"Kita menggunakan teori-teori yang diajar dari Barat itu tidak bermasalah. Tapi kita harus sadar teori itu muncul di dalam konteks masyarakat tertentu. Kita hanya mengambil teori itu dan mencoba menerapkannya di dalam masyarakat kita sendiri. Itu bermasalah. Kita seharusnya melihat sendiri apa masalah di lingkungan kita, kemudian kita mencari datanya, kita meneliti. Kemudian dari situ kita membuat theorizing kita sendiri," kata dia.

Ia menambahkan bahwa ketergantungan akademik ini mirip dengan eksploitasi ekonomi colonial. Peneliti lokal mengumpulkan data, data itu dibawa ke universitas-universitas Barat untuk diteorikan, lalu teori itu dikembalikan dan dikonsumsi oleh kita sendiri.

Padahal penteorian itu sendiri datang dengan konteksnya sendiri. Inilah yang ia sebut sebagai academic dependency — ketergantungan akademik yang strukturnya sama persis dengan ketergantungan ekonomi di era kolonial.

Baik Prof Ichwan maupun Imran juga membahas mengenai label kolonial yang menciptakan stereotip “Melayu Malas” yang juga menginspirasi Alatas untuk melahirkan buku yang terkenal The Myth of the Lazy Native.

Imran mengamini, stereotip semacam itu juga melekat di Singapura, tempat di mana ia tumbuh.

"Saya sering melihat ada stereotip yang digunakan: 'Oh, Melayu itu malas, tidak seperti Cina. Cina itu rajin'. Itu kan ada ideologi di situ. Itu muncul waktu zaman kolonial," paparnya.

Baca Juga: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Lakukan Monitoring Progres Mahasiswa S2 dan S3 Beasiswa BAZNAS, Tekankan Pentingnya Keaktifan Mahasiswa

Imran Mohamed Taib juga menyoroti beberapa bentuk hegemoni ilmu yang juga harus dikritisi, selain Eurosentrisme. Nativisme, yaitu kecenderungan untuk meromantisasi tradisi sendiri dan menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam adalah baik, adalah salah satunya. Di Malaysia, misalnya, berkembang wacana yang mengangkat segalanya yang berkaitan dengan kemelayuan sebagai superior, tanpa kritisisme.

Ada pula tradisionalisme yang menerima tradisi masa lalu secara mentah-mentah tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan konteks kini. Ada etnonasionalisme yang mengunci identitas pada batas-batas etnik secara kaku. Ada sektarianisme, nihilisme yang menolak objektivitas ilmu, dan elitisme pengetahuan. Semuanya, menurut Alatas, adalah bentuk-bentuk hegemoni yang harus dikritisi secara setara.

Intelektual Publik yang Berfungsi

Imran Mohamed Taib menutup paparannya dengan merumuskan visi akhir dari proyek ilmu mandiri: bukan sekadar menghasilkan akademisi yang menulis di jurnal-jurnal berperingkat tinggi, melainkan melahirkan functioning public intellectual, intelektual publik yang berfungsi.

Mengacu pada karakterisasi yang dikembangkan Syed Husein Alatas, serupa dengan konsep organic intellectual Gramsci, seorang intelektual yang berfungsi harus: pertama, mengenali masalah yang nyata di lingkungannya dan mendefinisikan mengapa itu adalah masalah; kedua, membuat diagnosis tentang faktor-faktor penyebabnya; ketiga, merumuskan solusi yang lahir dari pemikiran mandiri, bukan dari kisi-kisi yang diberikan oleh pihak lain.

"Ini bermula dengan kita secara mandiri memikirkan sendiri di lingkungan kita apa masalah kita sendiri. Bukan orang lain yang memberitahu kita masalah kita sendiri kemudian menyuruh kita mencari solusinya. Itu harus datang dari jiwa kita sendiri karena kita ingin memajukan masyarakat kita sendiri."

Diskusi berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam. Acara dibuka dengan sambutan Wakil Direktur Pascasarjana, Ahmad Rafiq, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dan tanya jawab yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme dari peserta.

Baca Juga: Joint Conference Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan UID Ciamis: Meneguhkan Studi Islam Interdisipliner di Era Kontemporer