Dilihat 0 Kali

001_179_1000385188.jpg

Sabtu, 02 Mei 2026 01:04:00 WIB

Joint Conference Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan UID Ciamis: Meneguhkan Studi Islam Interdisipliner di Era Kontemporer

Ciamis – Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Darussalam (UID) Ciamis menggelar Joint Conference di Gedung Ibnu Hayyan MAN 1 Sleman. Mengusung tema “Studi Islam: Pendekatan Lintas Disiplin”, kegiatan ini menjadi sarana temu akademik yang mempertemukan beragam perspektif dalam studi Islam sekaligus memperkuat jejaring kerja sama antarinstitusi.

Dalam sambutannya, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A. menegaskan bahwa kerja sama ini sebenarnya telah lama direncanakan.

“Kami sudah lama sebenarnya merencanakan, kami ingin mempunyai partner-partner di luar Yogyakarta, dan kami melihat Universitas Islam Darussalam sebagai perguruan tinggi yang kami pandang berkualitas untuk dapat kita jadikan partner kerja sama,” ujar Prof. Ichwan, Senin (27 April 2026).

Pemilihan UID Ciamis bukan tanpa alasan. Institusi ini dinilai memiliki posisi strategis sebagai universitas berbasis pesantren, sesuatu yang relatif jarang ditemukan di Indonesia.


“Tidak banyak pesantren yang bisa melahirkan perguruan tinggi selevel universitas. Ada yang sekolah tinggi atau sampai institut, tapi tidak banyak yang sampai universitas,” tambahnya.

Selain itu, hubungan historis antara kedua institusi turut memperkuat kolaborasi ini. Banyak dosen dan pimpinan di UID merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan tradisi keilmuan yang telah terjalin secara tidak langsung. Kolaborasi ini pun dipandang sebagai upaya mempererat silaturahmi akademik sekaligus menyambungkan transmisi keilmuan antar generasi.

Studi Islam di era kontemporer

Rektor UID Ciamis dalam pidato pembukaannya menekankan bahwa studi Islam di era kontemporer harus mampu hadir dalam tiga wajah sekaligus: otentik, kontekstual, dan solutif. Ia mengibaratkan pertemuan antara kedua institusi sebagai “perkawinan manhaj antara warisan turas dan pendekatan saintifik”.

Menurutnya, UIN Sunan Kalijaga telah lama menjadi pelopor integrasi-interkoneksi yang memadukan teks dan konteks, naqli dan aqli, serta tradisi masjid dan laboratorium. Sementara UID Ciamis memiliki kekuatan pada tradisi pesantren dengan karakter muslim moderat, muslim demokrat, dan muhsin diplomat.

Lebih jauh ia menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan studi Islam.

“Studi Islam membutuhkan jemaah ilmiah karena tidak ada satu kampus pun yang bisa hebat sendirian,” ujarnya.

Ia juga membuka peluang kerja sama lanjutan seperti joint research ataustudent exchange sebagai tindak lanjut konkret dari konferensi ini.

Baca Juga: Mengenal Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga: Profil, Keunggulan, dan Konsentrasi

Pendekatan Interdisipliner

Tema besar konferensi, yakni pendekatan lintas disiplin dalam studi Islam, menjadi benang merah dalam seluruh sesi diskusi. Salah satu pembicara utama yang juga merupakan Pengasuh Pesantren Darussalam Ciamis, Prof. Dr. K.H. Fadlil Munawwar Manshur, M.S., membahas dinamika studi Islam di era postmodernisme. Ia menjelaskan bahwa era postmodern ditandai oleh mencairnya batas-batas pemikiran, dan kebenaran tak lagi absolut.

“Era posmo ditandai dengan pluralisme. Kemudian mencairnya pemikiran, serta bangkitnya lokalitas,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, otoritas keagamaan tidak lagi bersifat tunggal. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook bahkan telah menjadi “otoritas baru” dalam membentuk pemahaman keagamaan masyarakat. Perubahan ini menuntut transformasi dalam dunia pendidikan. Model pembelajaran yang berpusat pada dosen dinilai tidak lagi memadai. Sebagai gantinya, pendekatan student-centered learning perlu dikembangkan agar mahasiswa lebih aktif dan kritis. Jika tidak, ia mengingatkan, studi Islam berisiko menjadi ‘museum’, tertinggal dan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Ia juga menyoroti potensi besar Indonesia yang memiliki ribuan perguruan tinggi keagamaan Islam dan puluhan ribu pesantren. Potensi ini dapat dikembangkan ke berbagai bidang baru, mulai dari studi budaya, studi Islam digital, kajian gender dan postkolonial, hingga isu lingkungan dan kesehatan mental. Bahkan, peluang karir lulusan studi Islam kini semakin luas, termasuk menjadi kreator konten, analis kebijakan, hingga pengembang teknologi berbasis nilai-nilai Islam.

Pembicara berikutnya, Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, menegaskan bahwa pendekatan interdisipliner bukanlah hal baru dalam tradisi Islam. Ia menjelaskan bahwa pada masa awal Islam, praktik keagamaan belum terkotak dalam disiplin ilmu seperti sekarang. Namun, proses tadwin (kodifikasi) melahirkan berbagai cabang keilmuan seperti fikih, tafsir, dan tasawuf.

“Jadi ulama-ulama kita dulu itu pengetahuannya tidak hanya monodisiplin,” jelasnya.

Seorang ahli tafsir misalnya, tidak hanya menguasai tafsir, tetapi juga bahasa, sastra, dan sejarah. Oleh karena itu, interdisiplinaritas merupakan bagian inheren dari tradisi keilmuan Islam. Ia kemudian memperkenalkan konsep deep interdisciplinarity, yaitu integrasi yang tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga konseptual dan epistemologis. Pendekatan ini menuntut “kerendahan hati epistemologis” serta kemampuan membangun bahasa bersama antar disiplin.

Dr. Subi Nurisnaini, Lc., M.A., menghadirkan perspektif berbeda melalui kajian mushaf Al-Qur’an feminin. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya visibilitas Islam di ruang publik.

“Dalam beberapa dekade terakhir kita melihat bahwa ekspresi keislaman di ruang publik semakin meluas,” jelasnya. Di antaranya, menurut Dr. Isna, adalah fashion jilbab dan pakaian muslim yang beragam, serta munculnya berbagai kelompok kajian maupun terbitnya buku-buku keislaman.

Melalui pendekatan interdisipliner yang menggabungkan studi Al-Qur’an, gender, dan materialitas, ia menunjukkan bahwa mushaf tidak hanya berfungsi sebagai teks suci, tetapi juga sebagai objek sosial dan kultural. Mushaf feminin dilengkapi dengan berbagai konten tambahan seperti hadis dan fikih perempuan yang secara spesifik menyasar kebutuhan perempuan muslim.

Konten-konten ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan praktis, tetapi juga mengandung dimensi persuasif dalam membentuk kesalehan perempuan. Ia juga menegaskan bahwa mushaf tidak sepenuhnya netral, melainkan menjadi medium transmisi nilai dan ideologi tertentu.

Pendekatan interdisipliner juga diperluas oleh Dr. Pil. Munirul Ikhwan, Lc., M.A., yang membahas terkait risetnya soal pembacaan Al-Qur’an sebagai wacana publik. Ia menggabungkan perspektif sastra, sosiologi, dan politik untuk memahami bagaimana Al-Qur’an berperan dalam membentuk ruang publik pada masa awal Islam.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Arab pra-Islam, berbagai aktor seperti penyair dan peramal memainkan peran penting dalam membentuk opini publik. Namun, Al-Qur’an hadir sebagai intervensi diskursif yang kuat.

Penggunaan bahasa Arab fusha dalam Al-Qur’an dipandang sebagai strategi retoris untuk menjangkau audiens luas. Selain itu, Al-Qur’an juga membawa kritik sosial yang tajam terhadap ketimpangan ekonomi dan melemahnya solidaritas sosial. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berbicara dalam ranah teologis, tetapi juga sosial-politik.

Sesi terakhir diisi oleh Egi Tanadi Taufik, MA, MA, M.Sc., yang menghadirkan pendekatan unik melalui studi filologi dan fragmentologi. Sebagai bagian dari generasi Z, ia mengawali presentasinya dengan refleksi ringan.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Konsentrasi Prodi Magister Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

“Saya tuh Gen Z… dan anak Gen Z itu biasanya FOMO,” ujarnya, merujuk pada dorongan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru dalam studi Islam.

Melalui pengalaman mengajar filologi, ia mengajak peserta untuk melihat naskah tidak hanya sebagai teks utama, tetapi juga sebagai kumpulan fragmen yang menyimpan makna penting. Catatan pinggir, coretan, hingga ilustrasi sederhana dalam manuskrip menjadi sumber data yang berharga.

Penelitiannya di Jawa Barat didasarkan pada data bahwa wilayah tersebut memiliki jumlah pesantren terbanyak di Indonesia. Namun, ia mengkritik bahwa historiografi pesantren selama ini cenderung bias terhadap Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara teks-teks Sunda menjadi teks sekunder.

Melalui studi naskah santri, ia menunjukkan bagaimana manuskrip sederhana dapat mengungkap jaringan keilmuan yang luas. Sebuah kitab bisa ditulis di Timur Tengah, disiarkan di Nusantara, lalu dipelajari oleh santri di daerah tertentu dengan harga yang sangat murah pada masanya. Informasi semacam ini membuka perspektif baru tentang dinamika intelektual pesantren.

Pendekatan ini dikenal sebagai fragmentologi, yang menekankan prinsip “small things matter”. Ia menegaskan bahwa penulisan sejarah pesantren tidak seharusnya hanya berfokus pada tokoh besar seperti kiai.

“Pesantren tersusun dari kata santri. Saya ingin teman-teman kemudian belajar untuk lebih mengapresiasi dan menekankan kesantrian dalam tradisi dan kepenulisan sejarah pesantren.,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Joint Conference ini menegaskan bahwa masa depan studi Islam terletak pada kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu tanpa kehilangan akar tradisi. Pendekatan interdisipliner bukan hanya kebutuhan metodologis, tetapi juga strategi untuk menjawab kompleksitas zaman.

Lebih dari itu, konferensi ini mengingatkan bahwa studi Islam bukan hanya tentang teks, tetapi juga tentang manusia—tentang bagaimana pengetahuan diproduksi, diwariskan, dan dihidupkan dalam berbagai konteks sosial. Kolaborasi antara kampus, pesantren, dan berbagai aktor lainnya menjadi kunci untuk menghadirkan studi Islam yang lebih relevan, dan berdampak di masa depan.

Baca Juga: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Lakukan Monitoring Progres Mahasiswa S2 dan S3 Beasiswa BAZNAS, Tekankan Pentingnya Keaktifan Mahasiswa