Yogyakarta — Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar diskusi keilmuan bertajuk "Youth Culture and Digital Activism in Indonesia" yang menghadirkan Dr. Dayana Lengauer (Austrian Academy of Sciences) sebagai narasumber, dan Dr. Martin Slama (Austrian Academy of Sciences) sebagai penanggap. Kegiatan berlangsung di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga pada Selasa (21 Juli 2026), diikuti oleh dosen serta mahasiswa, baik dari UIN Sunan Kalijaga maupun dari sejumlah kampus lain.
Acara ini dipandu oleh mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga konsentrasi ITMS, Yusuf Baity. Kelancaran acara juga didukung oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP).
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan, perspektif peneliti internasional memiliki nilai penting dalam memahami dinamika masyarakat Indonesia. Menurutnya, peneliti yang datang dari luar sering kali mampu melihat fenomena yang dianggap 'biasa' oleh masyarakat lokal sebagai sesuatu yang menarik dan memiliki nilai akademik tinggi.
"Kadang-kadang kita kehilangan sensibilitas karena terlalu dekat dengan realitas yang kita hadapi setiap hari. Justru perspektif dari 'luar' dapat membantu menghadirkan pengetahuan dan cara pandang baru terhadap masyarakat Indonesia," ujarnya.
Rektor berharap kehadiran Dayana bukan menjadi yang pertama dan yang terakhir. Ke depan, ia ingin agar Dayana dan Martin dapat berbagi keilmuan lebih banyak kepada para mahasiswa. Lebih lanjut, Rektor juga berharap nantinya terwujud kolaborasi riset jangka panjang antara Austrian Academy of Sciences dengan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Kerja sama tersebut tidak hanya menghasilkan penelitian bersama, tetapi juga memperkuat kegiatan akademik melalui kuliah tamu, pendampingan riset mahasiswa, hingga keterlibatan peneliti internasional sebagai penguji tesis dan disertasi.
Sementara itu, dalam sesi pemaparannya, Dayana menjelaskan bahwa penelitian yang akan ia lakukan, berfokus pada perubahan bentuk aktivisme mahasiswa Indonesia di era media sosial. Penelitian tersebut akan mengkaji bagaimana media digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga membentuk identitas, praktik, serta cara generasi muda memahami dan menjalankan aktivisme politik.
Ia mengungkapkan bahwa lanskap politik dan media sosial Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah berbagai peristiwa politik nasional, media sosial semakin menjadi ruang utama penyebaran narasi politik, mobilisasi massa, sekaligus arena pertarungan berbagai kepentingan.
Menurut Dayana, aktivisme mahasiswa saat ini tidak lagi semata-mata dipahami melalui organisasi formal atau demonstrasi di jalan. Berbagai gerakan sosial kini banyak hadir melalui kampanye digital yang memadukan aksi daring dan luring, ditandai dengan penggunaan tagar, visual, video pendek, meme, musik, hingga simbol-simbol budaya populer.
Adapun Dr. Martin Slama memberikan tanggapan dengan membandingkan kondisi aktivisme digital saat ini dengan pengalaman penelitiannya pada awal Reformasi tahun 1998 hingga awal 2000-an. Saat itu, internet masih diakses melalui warung internet (warnet), dan media sosial belum berkembang seperti sekarang.
Martin menjelaskan bahwa penelitian awalnya justru menemukan bagaimana internet lebih banyak digunakan mahasiswa untuk aktivitas sehari-hari, seperti berkomunikasi, mencari teman, hingga berbagi cerita pribadi. Dari sana, ia melihat bahwa batas antara praktik keseharian dan aktivisme ternyata tidak selalu tegas.
"Pertanyaan pentingnya adalah, di mana aktivisme berakhir dan di mana praktik sehari-hari dimulai. Dalam banyak kasus, batas itu sangat cair," ujarnya.
Menurut Martin, perkembangan platform digital dan algoritma saat ini membuat dinamika aktivisme menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan dua dekade lalu. Platform media sosial kini tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana suatu isu memperoleh perhatian publik.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai efektivitas aktivisme digital, fenomena akun anonim, budaya meme, algoritma media sosial, hingga tantangan gerakan sosial di tengah dominasi platform digital.
Melalui kegiatan ini, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog akademik yang mempertemukan perspektif global dan lokal. Diskusi ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi riset internasional yang lebih luas sekaligus memperkaya kajian mengenai transformasi budaya digital dan aktivisme anak muda di Indonesia.
Baca Juga: Writing Camp 2026: Ruang Inkubasi Mahasiswa S2 dan S3 Menuju Kelulusan