Yogyakarta - Pascasarjana menggelar perbincangan
akademik dalam forum bertajuk Diskusi Keilmuan “Writing a History of Knowledge
in the Islamic Tradition: Knowledge Across Disciplines” pada Kamis, 20 Agustus 2026. Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Islam Dayeh dari Universiteit Gent, Belgia, sebagai pembicara. Kegiatan dipandu oleh
mahasiswa doktoral Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Asep Nahrul Musadad,
S.Th.I., M.Ag., selaku moderator.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Moch. Nur
Ichwan, S.Ag., M.A., mengulas mengenai pergeseran IAIN menjadi UIN
Sunan Kalijaga yang melibatkan perubahan paradigma menuju studi
interdisipliner. Ia mengatakan, pada situasi yang mengakomodasi ilmu-ilmu sosial dan
sains sebagai pertalian integratif dan interkonektif dengan ilmu-ilmu
keislaman, muncul kondisi yang tidak terduga, di mana ilmu-ilmu keislaman
klasik justru termarginalisasi di tengah diskursus akademik.
Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, Prof. Dayeh menegaskan bahwa pembahasannya secara khusus diarahkan untuk melihat interdisiplinaritas sepenuhnya dari lensa sejarah Islam. Di tengah kuatnya dambaan akan
interdisiplinaritas di berbagai institusi pendidikan saat ini, bagaimana
sebenarnya konsep ini dalam kerangka histori Islam? Bagaimana ia dipraktikkan
di masa lalu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi roadmap pembahasannya
sepanjang diskusi.
Ia membuka presentasinya dengan lukisan
klasik yang menampakkan para penikmat ḥashīsh. Menurutnya, fenomena
konsumsi ḥashīsh, juga kopi, di masa lalu telah dipotret dan dipetakan
secara lugas oleh para tokoh yang saat ini kita kenal sebagai fuqahāʾ.
Inilah yang kemudian ia sebut sebagai konvergensi antarpelbagai keilmuan di
tangan ulama klasik.
Guru besar bidang
studi Islam dan bahasa Arab ini menyoroti, literatur Islam yang merekam kehadiran
sosok faqīh sekaligus ṭabīb, atau sekadar mutaṭabbib,
adalah bukti nyata fenomena interdisiplinaritas masa lalu. Tidak
gamang-gamang, ia menghadirkan segudang nama ulama interdisipliner klasik,
salah satunya Ibn al-Hāʾim al-Miṣrī (w. 815/1412) sebagai sosok ahli fiqh klasik
yang juga melahirkan kalkulus berbasis aljabar untuk menyelesaikan kasus kewarisan
yang kompleks. Dengan demikian, al-Miṣrī menjadi satu dari sekian banyak ulama
klasik yang mempraktikkan interdisiplinaritas sekaligus berkiprah sebagai
matematikawan.
Dayeh mengungkap, ada garis waktu yang cukup panjang, dari abad ketigabelas hingga
kesembilan belas. Ia menggarisbawahi akhir abad
kesembilan belas sebagai era al-mutaʾakhkhirūn, sebuah fase di mana
kultur pendidikan mengalami perubahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini
ditandai dengan adanya bangunan-bangunan yang terpisah, khususnya di antara al-madāris
dan rumah sakit. Pun, ini juga menandai awal persentuhan sejarah Islam
dengan kolonialitas beserta segala paradigma modernitas yang dibawa di
dalamnya.
Selain menyajikan
beragam kasus yang ia temui dalam kegiatan risetnya selama ini, Dayeh
memanfaatkan forum diskusi ini untuk memperkenalkan sebuah proyek yang sedang
ia kerjakan. KNOW adalah nama proyek tersebut, di mana Prof. Dayeh menjadi research
director yang menggagas dan mengembangkan sejarah umum tentang pengetahuan,
polymathy, serta interdisiplinaritas dalam kultur epistemik Islam.
Seperti yang ia nyatakan, KNOW menjadi satu dari sejumlah proyek yang didanai
oleh Consolidation Grant dari European Research Council (ERC).
Apa yang telah
dipaparkan oleh Prof. Dayeh selama kurang lebih dua jam di Aula Pascasarjana
sore itu membawa angin segar bagi para pengkaji sejarah intelektual secara
umum. Proyeknya sekaligus menegaskan masih panjangnya diskusi ihwal
interdisiplinaritas di lingkup akademik. Bahkan dalam bingkai sejarah Islam,
interdisiplinaritas memiliki ruang tersendiri yang bisa memunculkan kajian
secara lebih mendalam. (KMP)