Dilihat 0 Kali

001_204_know.jpg

Selasa, 25 Agustus 2026 20:25:00 WIB

Mengungkap Tradisi Intelektual Islam melalui Interdisiplinaritas bersama Islam Dayeh

Yogyakarta - Pascasarjana menggelar perbincangan akademik dalam forum bertajuk Diskusi Keilmuan “Writing a History of Knowledge in the Islamic Tradition: Knowledge Across Disciplines” pada Kamis, 20 Agustus 2026. Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Islam Dayeh dari Universiteit Gent, Belgia, sebagai pembicara. Kegiatan dipandu oleh mahasiswa doktoral Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Asep Nahrul Musadad, S.Th.I., M.Ag., selaku moderator.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A., mengulas mengenai pergeseran IAIN menjadi UIN Sunan Kalijaga yang melibatkan perubahan paradigma menuju studi interdisipliner. Ia mengatakan, pada situasi yang mengakomodasi ilmu-ilmu sosial dan sains sebagai pertalian integratif dan interkonektif dengan ilmu-ilmu keislaman, muncul kondisi yang tidak terduga, di mana ilmu-ilmu keislaman klasik justru termarginalisasi di tengah diskursus akademik.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, Prof. Dayeh menegaskan bahwa pembahasannya secara khusus diarahkan untuk melihat interdisiplinaritas sepenuhnya dari lensa sejarah Islam. Di tengah kuatnya dambaan akan interdisiplinaritas di berbagai institusi pendidikan saat ini, bagaimana sebenarnya konsep ini dalam kerangka histori Islam? Bagaimana ia dipraktikkan di masa lalu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi roadmap pembahasannya sepanjang diskusi.

Ia membuka presentasinya dengan lukisan klasik yang menampakkan para penikmat ḥashīsh. Menurutnya, fenomena konsumsi ḥashīsh, juga kopi, di masa lalu telah dipotret dan dipetakan secara lugas oleh para tokoh yang saat ini kita kenal sebagai fuqahāʾ. Inilah yang kemudian ia sebut sebagai konvergensi antarpelbagai keilmuan di tangan ulama klasik.

Guru besar bidang studi Islam dan bahasa Arab ini menyoroti, literatur Islam yang merekam kehadiran sosok faqīh sekaligus ṭabīb, atau sekadar mutaṭabbib, adalah bukti nyata fenomena interdisiplinaritas masa lalu. Tidak gamang-gamang, ia menghadirkan segudang nama ulama interdisipliner klasik, salah satunya Ibn al-Hāʾim al-Miṣrī (w. 815/1412) sebagai sosok ahli fiqh klasik yang juga melahirkan kalkulus berbasis aljabar untuk menyelesaikan kasus kewarisan yang kompleks. Dengan demikian, al-Miṣrī menjadi satu dari sekian banyak ulama klasik yang mempraktikkan interdisiplinaritas sekaligus berkiprah sebagai matematikawan.

Dayeh mengungkap, ada garis waktu yang cukup panjang, dari abad ketigabelas hingga kesembilan belas. Ia menggarisbawahi akhir abad kesembilan belas sebagai era al-mutaʾakhkhirūn, sebuah fase di mana kultur pendidikan mengalami perubahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini ditandai dengan adanya bangunan-bangunan yang terpisah, khususnya di antara al-madāris dan rumah sakit. Pun, ini juga menandai awal persentuhan sejarah Islam dengan kolonialitas beserta segala paradigma modernitas yang dibawa di dalamnya.

Selain menyajikan beragam kasus yang ia temui dalam kegiatan risetnya selama ini, Dayeh memanfaatkan forum diskusi ini untuk memperkenalkan sebuah proyek yang sedang ia kerjakan. KNOW adalah nama proyek tersebut, di mana Prof. Dayeh menjadi research director yang menggagas dan mengembangkan sejarah umum tentang pengetahuan, polymathy, serta interdisiplinaritas dalam kultur epistemik Islam. Seperti yang ia nyatakan, KNOW menjadi satu dari sejumlah proyek yang didanai oleh Consolidation Grant dari European Research Council (ERC).

Apa yang telah dipaparkan oleh Prof. Dayeh selama kurang lebih dua jam di Aula Pascasarjana sore itu membawa angin segar bagi para pengkaji sejarah intelektual secara umum. Proyeknya sekaligus menegaskan masih panjangnya diskusi ihwal interdisiplinaritas di lingkup akademik. Bahkan dalam bingkai sejarah Islam, interdisiplinaritas memiliki ruang tersendiri yang bisa memunculkan kajian secara lebih mendalam. (KMP)