Yogyakarta, 11 September 2026 – Krisis iklim berdampak pada berbagai hal, salah satunya musim kemarau yang ekstrem dan panjang, seperti fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2026 ini. Dampak rentetannya adalah keberadaan tanah marginal atau tandus yang sulit untuk ditanami.
Namun di tengah persoalan ini, khazanah fikih klasik ternyata menyimpan jawaban yang relevan melalui konsep “ihya’ul mawat”, yang secara bahasa berarti: menghidupkan tanah yang mati atau tidak produktif. Konsep ini, berpijak pada sebuah hadis: “man ahya ardha maitatan fahiya lahu”, artinya “Barang siapa menghidupkan tanah yang mati, maka tanah itu menjadi miliknya”.
Konsep ihya’ul mawat seringkali dikaitkan dengan konsep kepemilikan. Ihya’ul mawat kerap menjadi salah satu jalan untuk memperoleh hak milik atas tanah. Sederhananya, siapa yang melakukan ihyaul mawat, dia yang akan memiliki tanah itu, dengan berbagai syarat yang ditentukan dalam ilmu fikih.
Uji tanah untuk mengetahui kondisi tanah marginal di area Lumbung Pangan Guwosari, Pajangan Bantul
Suhadi, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, mendeskripsikan ihyaul mawat dengan cara yang berbeda. Ia menjelaskan ihyaul mawat dalam konteks krisis iklim yang tidak terkait dengan konsekuensi kepemilikan, mengingat saat ini tanah di muka bumi telah dimiliki oleh pribadi, masyarakat adat, lembaga, ataupun negara.
Ihyaul mawat dalam pengertian tersebut, dimaknai sebagai menghidupkan kembali fungsi ekologis-produktif tanah yang mati/marginal. Sebagian ulama dalam madzhab Syafii dan Hambali dapat menjadi sandaran pandangan ini, yang memakmai ihyaul mawat untuk tanah pertanian, yaitu upaya mengolah, menanami, dan mengairi tanah sehingga dari tanah tersebut dapat diambil manfaat darinya.
Atas dasar norma fikih itulah Suhadi dan tim menggagas penelitian yang bertajuk Implementasi Ekoteologi Pertanian: Pendekatan Holistik-Spiritualistik Inovasi Regenerative Agriculture Berbasis Rumput Gama Umami dan Chicory Di Pondok Pesantren Al Imdad dan Lumbung Pangan Mataraman Guwosari, Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian tersebut mendapatkan dukungan pendanaan dari MORA The Air Fund Kementerian Agama Pusat dan LPDP. Selain Suhadi sebagai Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, penelitian ini juga melibatkan para dosen dan peneliti dari Fakultas Peternakan UGM dan Fakultas Industri Halal UNU Yogyakarta.
Sebagai bagian dari prosen pelaksanaan penelitian tersebut, Suhadi dan tim, pada awal September lalu, melakukan kunjungan ke area perkebunan Lumbung Pangan Mataraman di Guwosari. Rumput Gama Umami yang ditanam sekitar dua bulan lalu, kini sudah lebih tinggi dari orang dewasa dan tampak tumbuh hijau subur. Padahal, rumput tersebut ditanam di area tanah tandus dan kering.
Beberapa minggu di awal masa tanam, rumput memang perlu disirami lebih sering. Namun, setelah ukurannya mencukupi, rumput relatif tidak memerlukan air dan mampu bertahan di cuaca yang kering ekstrem seperti keadaan El-Nino saat ini.
Kunjungan lapangan terus dilakukan Suhadi dan tim, baik untuk meninjau perkembangan tanaman, maupun melakukan pengujian tanah yang memanfaatkan alat-alat mutakhir dalam bidang teknologi pertanian.
Penelitian diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi petani dan peternak di lingkungan sekitar. Ke depan, seluruh proses juga akan ditulis sebagai buku maupun artikel bereputasi untuk kajian ilmiah yang berdampak nasional dan internasional.
Baca Juga: Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Raih Hibah Riset AIR Funds 2025