Yogyakarta – Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan ujian terbuka sidang promosi doktor pada 10 Juni 2026. Pada kesempatan tersebut, promovendus yang merupakan mahasiswa S3 Studi Islam, Samsirin, mempertahankan disertasinya berjudul “Ortodoksi dan Praksis Pendidikan di Perguruan Islam Pondok (PIP) Tremas Pacitan”.
Sidang promosi doktor berlangsung di hadapan dewan penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A. sebagai ketua sidang sekaligus penguji. Turut hadir sebagai sekretaris sidang Dr. Subi Nur Isnaini, dengan tim promotor dan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Mahmud Arif, M.Ag., Dr. Karwadi, S.Ag., M.Ag., Mohammad Yunus, Lc., M.A., Ph.D., Dr. Sunarwoto, S.Ag., M.A., Prof. Zulkipli Lessy, S.Ag., S.Pd., M.Ag., M.S.W., Ph.D., dan Dr. Ala’i Najib, M.A.
Disertasi ini mengkaji relasi antara ortodoksi Islam dan praktik pendidikan di Perguruan Islam Pondok (PIP) Tremas Pacitan, salah satu pesantren yang memiliki posisi penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Penelitian berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana PIP Tremas mempertahankan ortodoksi Islam yang diwariskan para masyayikh, bagaimana ortodoksi tersebut diimplementasikan dalam kurikulum dan sistem pendidikan, serta bagaimana lembaga ini menjaga kesinambungan tradisi di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Penelitian ini memanfaatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan studi pustaka sebagai sumber data. Analisis dilakukan melalui proses reduksi, kategorisasi, dan interpretasi tematik dengan pengujian validitas melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member check.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pendidikan di PIP Tremas secara substansial mampu mempertahankan ortodoksi Islam melalui keberlanjutan transmisi turāṡ, penguatan sanad keilmuan, legitimasi otoritas masyayikh, serta reproduksi nilai-nilai keagamaan dalam keseluruhan struktur pendidikan. Di saat yang sama, PIP Tremas juga menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tanpa meninggalkan fondasi tradisi yang menjadi identitas kelembagaannya.
Penulis berpendapat, temuan ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai ruang reproduksi pengetahuan, pelestarian tradisi intelektual Islam, serta arena sosial yang terus bernegosiasi dengan dinamika modernitas. Melalui model pendidikan yang dijalankan, PIP Tremas memperlihatkan bagaimana ortodoksi dan perubahan dapat berjalan secara beriringan dalam kerangka pendidikan Islam yang berkelanjutan.