Dilihat 0 Kali

001_484_ridha.png

Kamis, 11 Juni 2026 09:51:00 WIB

Ujian Terbuka Doktor Bahas Kesalehan Digital dan Politik Visibilitas Perempuan Bercadar di Instagram

Yogyakarta – Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan ujian terbuka promosi doktor pada 8 Juni 2026 di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Pada kesempatan tersebut, Muhammad Ridha mempertahankan disertasi berjudul “Kesalehan Digital dan Politik Visibilitas: Fluiditas Identitas Keagamaan Perempuan Bercadar di Instagram".

Sidang promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A. selaku Ketua Sidang/Penguji, dengan Ahmad Rafiq, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. sebagai Sekretaris Sidang. Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. Iswandi Syahputra, S.Ag., M.Si. dan Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. Adapun penguji dalam sidang tersebut adalah Dr. Sunarwoto, S.Ag., M.A., Najib Kailani, S.Fil.I., M.A., Ph.D., Prof. Fatimah, M.A., Ph.D., dan Prof. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si., M.A.

Disertasi ini mengkaji fenomena perempuan bercadar di media sosial, khususnya Instagram, dalam konteks perkembangan digital yang semakin memengaruhi pembentukan identitas keagamaan. Penelitian berfokus pada bagaimana perempuan bercadar menampilkan, menegosiasikan, dan membangun identitas religius mereka melalui praktik-praktik digital yang berlangsung di platform media sosial.

Melalui konsep kesalehan digital dan politik visibilitas, penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga arena produksi makna, representasi diri, dan pembentukan otoritas keagamaan. Dalam ruang digital, perempuan bercadar dapat menjadi aktor yang secara aktif mengelola citra, menyampaikan pesan-pesan keagamaan, serta membangun jejaring sosial dan komunitas virtual.

Penelitian ini menemukan bahwa identitas keagamaan perempuan bercadar di Instagram bersifat dinamis dan cair (fluid). Identitas tersebut terus dinegosiasikan melalui interaksi dengan audiens, algoritma media sosial, serta berbagai tuntutan sosial yang muncul secara digital. Di satu sisi, media sosial membuka peluang bagi perempuan bercadar untuk memperoleh visibilitas dan memperluas jangkauan dakwah. Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan berbagai tantangan terkait representasi, otentisitas, dan persepsi publik terhadap simbol-simbol keagamaan.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa media sosial menjadi ruang baru bagi ekspresi keberagamaan yang tidak lagi terbatas pada institusi-institusi keagamaan konvensional.