Dilihat 0 Kali

001_403_OAW.png

Jumat, 26 Juni 2026 14:03:00 WIB

Pengalaman Mendapatkan Fellowship di Austrian Academy of Sciences (ÖAW)

Wina, Austria - Mendapatkan kesempatan sebagai fellow selama tiga bulan di Austrian Academy of Sciences—atau yang lebih dikenal sebagai ÖAW (Österreichische Akademie der Wissenschaften)—menjadi fase penting dalam perjalanan akademik saya. Saat ini, program telah berjalan selama dua bulan, dan waktu yang singkat tersebut telah memberikan banyak pengalaman berharga. Pengalaman ini mencakup pendalaman aktivitas riset di lingkungan akademik Eropa sekaligus adaptasi kultural di tengah masyarakatnya.

Keikutsertaan saya dalam program ini tidak terlepas dari peran Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fellowship ini merupakan buah dari kerja sama institusional yang telah lama terjalin erat antara Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan Institute for Social Anthropology (ISA) - ÖAW. Melalui jalur kemitraan strategis inilah, saya mendapatkan ruang yang suportif untuk mengembangkan riset di tingkat internasional serta memperkuat jejaring akademik antarlembaga.

Proses Seleksi dan Tantangan Persiapan Mandiri

Fellowship ini tentu tidak didapatkan dengan mudah karena melibatkan proses seleksi yang ketat. Tahapan dimulai dengan pengiriman artikel ilmiah (paper) sesuai dengan tema yang telah ditentukan, diikuti dengan sesi wawancara menyeluruh dalam bahasa Inggris. Seluruh proses ini menjadi tantangan tersendiri yang menuntut kesiapan akademik dan mental.

Baca Juga: Dua Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Lakukan Penguatan Riset Tugas Akhir di KU Leuven, Belgia Selama Satu Semester

Dari belasan pendaftar yang berhasil lolos hingga tahap wawancara, pihak penyelenggara akhirnya mengumumkan dua orang yang dinyatakan berhak menerima fellowship ini, dan saya bersyukur menjadi salah satunya. Setelah dinyatakan lolos, tantangan berikutnya adalah persiapan keberangkatan.

Berbeda dengan program yang difasilitasi penuh secara administratif, dalam program ini kami dituntut untuk mempersiapkan segala sesuatunya secara mandiri. Kami benar-benar merasakan pengalaman awal sebagai peneliti internasional yang harus mengurus tempat tinggal sendiri di Wina, mengajukan visa, hingga melegalisasi berbagai dokumen yang diperlukan. Proses birokrasi dan logistik yang mandiri ini menjadi pengalaman berharga sebelum benar-benar memulai riset di luar negeri.

Adaptasi Kultural dan Kehidupan Sehari-hari di Wina


Saya tiba di Wina tepat saat musim panas dimulai, sehingga faktor cuaca tidak menjadi kendala yang berarti. Masalah adaptasi makanan juga relatif mudah diatasi. Saya tinggal di sebuah distrik yang mayoritas penduduknya merupakan imigran asal Turki, sehingga akses untuk menemukan bahan makanan maupun restoran halal sangat mudah dijangkau.

Meskipun demikian, tantangan adaptasi justru muncul terkait rutinitas ibadah, khususnya mengenai fasilitas wudhu dan perbedaan durasi waktu siang-malam di Eropa. Mayoritas toilet publik maupun di area penginapan di Eropa tidak menyediakan bidet atau keran air yang memudahkan untuk berwudhu. Selain itu, karena waktu siang di musim panas cenderung sangat panjang, jadwal salat Magrib, Isya, dan Subuh menjadi sangat larut dengan rentang waktu antar-salat yang sangat pendek. Pola waktu yang tidak biasa ini pada awalnya cukup memengaruhi ritme istirahat malam. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah melakukan penyesuaian pola aktivitas, tantangan-tantangan tersebut dapat teratasi dengan baik.

Ekosistem Akademik yang Suportif dan Peran Komunitas Diaspora


Proses adaptasi di lingkungan baru ini terasa jauh lebih mudah berkat dukungan penuh dari dosen pembimbing serta rekan-rekan peneliti di Institute for Social Anthropology (ISA). Sejak awal kedatangan, mereka sangat terbuka dalam membagikan berbagai informasi penting yang mendukung kelancaran riset dan aktivitas harian saya.

Baca Juga: Menjalani Ramadan di Leuven: Catatan Mahasiswa Pertukaran Pascasarjana UIN Suka di Belgia

Keramahan dan kehangatan dari sesama fellow menciptakan ruang diskusi yang sangat hidup, di mana kami bisa saling berbagi perspektif dan bertukar informasi akademik. Menariknya, banyak peneliti di ISA yang merupakan antropolog dengan fokus kajian tentang Indonesia. Pemahaman mereka yang mendalam serta ketertarikan mereka yang besar terhadap dinamika sosial-keagamaan di tanah air membuat interaksi akademik menjadi sangat nyambung, inklusif, dan produktif.

Di luar lingkungan kampus, proses adaptasi saya juga sangat terbantu oleh keberadaan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Terlibat dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh PPI Wina memberikan rasa kekeluargaan di tengah lingkungan yang baru. Teman-teman PPI tidak hanya sekadar menjadi tempat berbagi informasi praktis seputar kehidupan di Wina, tetapi juga menjadi jembatan sosial melalui berbagai kegiatan, mulai dari forum perkumpulan sesama warga Indonesia hingga aktivitas keagamaan di Masjid Indonesia. Kehadiran dua lingkaran pendukung ini, baik dari lingkungan akademik ISA maupun komunitas PPI menjadi faktor kunci yang membuat satu bulan pertama fellowship ini berjalan dengan sangat kondusif dan berkesan — (Bersambung ke edisi berikutnya).

Aktivitas Akademik sebagai Fellow di Institute for Sosial Antropology, Austrian Academic of Science 


Berada di bawah bimbingan Dr. Doz. Martin Slama, seorang peneliti senior di Institute for Social Anthropology, Austrian Academy of Sciences, memberikan saya pengalaman akademik yang luar biasa. Selama di sini, saya mengikuti berbagai agenda penting institusi, termasuk workshop, sesi evaluasi, dan guest lecture dwi-mingguan. Atmosfer akademiknya terasa sangat suportif; saya mendapatkan ruang kerja yang nyaman yang mendorong produktivitas untuk membaca dan menulis. Menariknya, ruangan tersebut saya bagi bersama para fellow dari berbagai negara, sehingga kami bisa saling bertukar pikiran dan berdiskusi lintas budaya.

Wina juga menjadi tempat yang strategis karena Austria memiliki komunitas ilmuwan yang kuat dalam kajian Indonesia. Saya memanfaatkan peluang ini untuk menghadiri berbagai seminar di universitas bereputasi seperti University of Vienna. Dukungan literatur dari perpustakaan internal institut dan ÖAW pun sangat mendukung, memberikan energi tambahan bagi saya untuk fokus merampungkan disertasi. Dari seluruh rangkaian kegiatan, pengalaman yang paling berkesan adalah saat saya dipercaya untuk mempresentasikan potongan riset disertasi saya dalam forum guest lecture. Bisa memaparkan karya di panggung internasional seperti ini adalah kesempatan langka yang sangat saya syukuri.

Acara akademik semacam ini memberikan pengalaman yang sangat berkesan dan sangat mahal dalam proses perjalanan akademik. Menyampaikan gagasan didepan banyak peneliti senior antropologi dan mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi serta mendapatkan feedback yang sangat membangun untuk memperbaiki paper yang sedang saya kerjakan. Kesempatan semacam ini juga membuka wawasan dan energi baru untuk memiliki kegigihan dalam proses menempuh pendidikan doktoral yang dengan berjalan. Konsistensi dan ketekunan menjadi alat utama untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Mungkin itu yang bisa saya tulis, semoga semua yang tertulis menjadi bagian dari merekam pengalaman yang telah saya lakukan. Terimakasih. 

Baca Juga: Program Sandwich UIN Sunan Kalijaga - ISA ÖAW: Mahasiswa Pascasarjana Lakukan Penelitian Antropolinguistik Hadis di Vienna