Dilihat 0 Kali

001_339_prof wahyuddin halim.png

Rabu, 03 Juni 2026 20:09:00 WIB

Membaca Sulawesi sebagai Pusat Produksi Pengetahuan Islam di Indonesia Timur

Yogyakarta - Acara Public Lecture dengan tema “Ulama dan Reproduksi Pengetahuan di Sulawesi", digelar di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga pada Selasa, 2 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar dari UIN Alauddin Makassar, Prof. Wahyuddin Halim, sebagai narasumber utama.

Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Moch. Nur Ichwan. Dalam sambutannya ia menyampaikan, produksi pengetahuan adalah salah satu penanda sejati sebuah peradaban. 

Ia mencontohkan bagaimana peradaban Mesir, Babilonia, Yunani, dan Arab dikenal hingga hari ini karena adanya warisan pengetahuan yang tertulis, dari naskah hingga inskripsi.

"Tidak ada peradaban yang kemudian dikenal jauh kecuali memang ada produksi pengetahuan di situ. Tingginya peradaban itu biasanya dilihat dari tingginya pengetahuan juga," kata Prof Ichwan.

Karya-karya para ulama terdahulu, lanjut Prof. Ichwan, tetap hidup dan terus dipelajari lintas generasi karena terdokumentasi dalam berbagai bentuk produksi pengetahuan.

Karya-karya ulama klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Arba'in Nawawiyah, menurut dia adalah bukti nyata bagaimana produksi pengetahuan mampu melampaui batas zaman dan geografi. 

Lebih lanjut ia menyampaikan, acara Public Lecture kali ini, menjadi kesempatan penting bagi sivitas akademika Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk memahami kontribusi ulama Sulawesi dalam membangun tradisi keilmuan Islam di Nusantara. Menurut Prof. Ichwan, kepakaran Prof. Wahyuddin Halim dalam kajian otoritas keagamaan, jaringan ulama, pesantren, dan produksi pengetahuan Islam di Indonesia Timur sangat relevan bagi mahasiswa dan dosen Pascasarjana.

Baca Juga: Graduate School of UIN Sunan Kalijaga Holds International Graduate Conference on Islamic Tradition

Tentang Sulawesi sebagai pusat produksi pengetahuan

Mengawali pemaparannya, Prof. Wahyuddin Halim mengajak peserta melihat Sulawesi bukan sekadar wilayah penerima pengaruh Islam global, melainkan juga pusat produksi dan penyebaran otoritas keagamaan yang berpengaruh di wilayah Indonesia Timur. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pengetahuan Islam yang berkembang di pesantren dan madrasah tradisional merupakan proses reproduksi dan lokalisasi pengetahuan Islam global ke dalam konteks masyarakat lokal.

“Kebanyakan pengetahuan yang diproduksi dalam konteks pendidikan Islam tradisional itu adalah lokalisasi pengetahuan Islam global sehingga bisa dipahami oleh masyarakat lokal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Sulawesi tidak hanya melahirkan ulama lokal, tetapi juga memproduksi otoritas keagamaan dan institusi pendidikan Islam yang menyebar ke berbagai wilayah Nusantara dengan ulama memegang posisi sentral dalam proses tersebut.

Mengutip pemikiran Muhammad Qasim Zaman, Prof. Wahyuddin menyatakan bahwa ulama tidak hanya berperan sebagai pewaris tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai agen yang memproduksi dan mentransformasikan pengetahuan Islam.

Dalam paparannya, Prof. Wahyuddin menyoroti sejumlah tokoh dan lembaga yang menjadi poros jaringan ulama Indonesia Timur, di antaranya Pesantren As’adiyah yang didirikan oleh K.H. Muhammad As’ad, Darud Dakwah wal Irsyad (DDI), Alkhairaat yang didirikan oleh Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, serta Muhammadiyah yang berkembang di Sulawesi Selatan sejak awal abad ke-20. Ia menunjukkan bagaimana jaringan-jaringan tersebut berhasil membangun tradisi pendidikan, dakwah, dan literasi Islam yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia Timur.

Salah satu fokus yang dibahasa dalam forum ini adalah sosok K.H. Muhammad As’ad Al-Bugisi, ulama kelahiran Makkah yang menjadi pendiri Pesantren As’adiyah. Menurut Prof. Wahyuddin, pengaruh K.H. As’ad sangat besar dalam membentuk kehidupan keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan melalui sistem halaqah, madrasah, serta tradisi penulisan dan penerbitan karya-karya keislaman.

Di penghujung kuliah, Prof. Wahyuddin merumuskan bahwa produksi pengetahuan ulama Sulawesi setidaknya berlangsung melalui tiga medium utama, yakni teks, lembaga pendidikan, dan media/gerakan dakwah.

Produksi pengetahuan dalam bentuk teks diwujudkan melalui kitab-kitab tafsir, fikih, akidah, dan akhlak yang ditulis dalam bahasa Arab maupun bahasa lokal, serta publikasi seperti Al-Mau‘izhah al-Hasanah dan Risalah As’adiyah. Sementara itu, pesantren dan madrasah berfungsi sebagai ekosistem pengetahuan yang menjaga transmisi ilmu melalui halaqah, pendidikan formal, masjid, dan asrama.

Adapun media dan gerakan dakwah, seperti Radio As’adiyah, Risalah As’adiyah, serta jaringan organisasi seperti DDI, Alkhairaat, Hidayatullah, Darul Istiqamah, dan Wahdah Islamiyah, menjadi sarana penyebaran gagasan dan penguatan pengaruh keislaman di berbagai wilayah Indonesia Timur.

Kuliah umum ini berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa, dosen, dan peserta yang hadir. Melalui pemaparan tersebut, peserta diajak memahami bahwa sejarah perkembangan Islam di Indonesia tidak hanya berpusat di Jawa atau Timur Tengah, tetapi juga memiliki akar kuat di kawasan Indonesia Timur yang selama ini turut berkontribusi besar dalam produksi dan transmisi pengetahuan keislaman di Nusantara.

Baca Juga: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Gelar Scholarship Talk Beasiswa Indonesia Bangkit 2026