Penulis: Naomi Ainun Hasanah, Mahasiswa Magister Interdisciplinary Islamic Studies konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam
Leuven, 2 Juli 2026 - Terletak sekitar 20 kilometer di sebelah timur Brussels, Leuven menyambut saya dengan atmosfer yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Sebagai kota pelajar yang dinamis, Leuven adalah rumah bagi sekitar 100.000 penduduk, di mana hampir setengahnya adalah mahasiswa dengan lebih dari 170 kebangsaan yang berbeda. Kota ini begitu lekat dengan nama besar Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven), universitas tertua di kawasan Low Countries yang berdiri sejak 1425 dan dinobatkan oleh surat kabar Reuters sebagai universitas paling inovatif di Eropa. Di luar denyut akademiknya, kota ini juga tersohor sebagai rumah bagi pabrik bir Stella Artois serta pusat sejarah yang sempat dinobatkan sebagai salah satu kota terbaik untuk dikunjungi di Eropa.
Adaptasi Awal sebagai Student Exchange di KU Leuven
Menginjakkan kaki di KU Leuven saat periode musim panas memberikan pengalaman yang unik sekaligus menantang. Kesan pertama yang saya dapatkan bukanlah rangkaian orientasi atau hiruk-pikuk kelas aktif, melainkan suasana fase ujian yang hening—pemandangan padat mahasiswa yang begitu fokus dengan buku dan laptop di setiap sudut perpustakaan serta ruang publik. Kondisi inilah yang menuntut saya—dan siapa pun yang berada di posisi serupa—untuk segera melakukan adaptasi mandiri agar bisa langsung selaras dengan ritme dan sistem yang berlaku di sini.
Baca Juga: Pengalaman Mendapatkan Fellowship di Austrian Academy of Sciences (ÖAW)
Menjadi mahasiswa pertukaran tentu menuntut inisiatif tinggi untuk aktif mencari informasi dan mengurus berbagai prosedur administrasi secara mandiri. Salah satu hal yang cukup menyita perhatian adalah urusan tempat tinggal. Mencari hunian untuk periode singkat di Leuven ternyata cukup spesifik; rata-rata landlord memiliki kebijakan minimum stay selama tiga bulan. Bagi mahasiswa dengan durasi program yang lebih pendek, hal ini menuntut strategi pencarian yang jauh lebih awal dan ekstra cermat.

Beruntungnya, sistem administrasi kampus berjalan dengan cukup terstruktur dan suportif. Mereka sangat responsif dalam membalas email selama kita menghubungi di rentang waktu operasional. Hal ini mencerminkan budaya work-life balance yang dijunjung tinggi—jadi, jangan merasa cemas jika email tidak segera dibalas di luar jam kerja. Dukungan akademik mereka pun memuaskan; perpustakaan di sini benar-benar menjadi "harta karun" dengan akses jurnal ilmiah yang luas dan koleksi buku fisik yang memotivasi saya untuk mendalami literatur yang selama ini sulit dijangkau. Urusan teknis seperti kartu mahasiswa pun diselesaikan dengan efisien melalui janji temu daring. Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa kemandirian administratif dan logistik adalah 'pelajaran' pertama yang harus diselesaikan, bahkan sebelum bimbingan riset dimulai.
Mekanisme Bimbingan Selama Program Berlangsung
Secara esensi, proses bimbingan di sini sebenarnya mirip dengan di Indonesia; kita tetap harus proaktif menghubungi supervisor untuk mendiskusikan progres riset. Namun, yang membedakan ialah komunikasi profesional sepenuhnya bermuara pada email. Kita tidak bisa sekadar datang atau mengirim pesan singkat. Polanya sangat terukur: kita meminta kesediaan, kemudian supervisor akan memberikan opsi jadwal yang tersedia, hingga akhirnya tercapai kesepakatan. Bahkan, profesionalisme ini tetap terjaga saat memasuki periode summer atau hari libur. Meski banyak supervisor yang memilih pulang ke tempat asal mereka, proses bimbingan tidak berhenti, melainkan beradaptasi melalui pengaturan jadwal yang telah disepakati.

Pengalaman saat bertemu tatap muka dengan supervisor saya, Prof. Amr Riyad, pada 19 Juni 2026 lalu menjadi momen yang sangat berkesan Beliau adalah tipe yang sangat straight to the point. Begitu sesi dimulai, beliau langsung meminta saya untuk memaparkan secara komprehensif mengenai topik riset yang sedang digarap. Di samping itu, beliau tidak memberikan arahan sebelum melihat sejauh mana kedalaman pemahaman saya terhadap riset tersebut. Beliau ingin memastikan bahwa saya benar-benar memegang kendali atas riset saya sendiri. Setelah mendengar paparan tersebut, beliau menuntut plan yang terukur untuk 1,5 bulan ke depan. Mengingat saya sudah memasuki semester 4 dan sedang dalam tahap perampungan, beliau meminta untuk dapat memberikan semacam overview mengenai tesis yang saya tulis dalam bentuk artikel sepanjang 24 halaman. selanjutnya kami pun menyepakati agenda check-point dan meeting secara online untuk meninjau progres tersebut tepat satu minggu setelah pertemuan tatap muka lalu.
Facts about Leuven
Bagi pendatang baru, beradaptasi di Leuven berarti belajar menikmati ritme kota yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk di Indonesia. Ketergantungan pada kendaraan pribadi bukanlah sebuah kebutuhan di sini; pusat kotanya yang kompak membuat hampir setiap sudut—mulai dari gedung universitas hingga pusat kuliner—dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki. Bagi mereka yang membutuhkan mobilitas lebih cepat, sepeda dan transportasi umum sudah terintegrasi sedemikian rupa sebagai moda utama yang efisien.
Efisiensi ini membawa dampak langsung pada kualitas lingkungan. Karena mayoritas penduduk memilih berjalan kaki dan bersepeda, polusi udara yang mengganggu praktis tidak ada. Suasana kota pun jauh lebih tenang tanpa suara klakson yang memekakkan telinga. Etika berkendara di sini benar-benar patut diacungi jempol; para pengemudi sangat peka dan menghargai ruang pejalan kaki. Mereka terbiasa melambat atau berhenti lebih awal—bahkan ketika saya masih berada dalam jarak yang cukup jauh —sehingga menciptakan rasa aman dan nyaman yang jarang saya temukan sebelumnya.
Di balik ketenangan tersebut, Leuven juga menyimpan denyut sosial dan sejarah yang kaya. Ikon kehidupan sosial kota ini adalah Oude Markt, sebuah ruang terbuka yang tersohor sebagai "bar terpanjang di Eropa". Namun, bagi saya, daya tarik utama kota ini justru terletak pada sisi intelektualnya. Salah satu bangunan paling ikonik adalah Universiteitsbibliotheek en -toren (perpustakaan universitas dan menaranya). Dibangun antara tahun 1921 dan 1928 di Ladeuzeplein sebagai monumen bergaya neo-renaissance pasca-kehancuran akibat Perang Dunia I, bangunan ini merupakan simbol ketangguhan sejarah Leuven yang didanai melalui bantuan Amerika. Saat ini, para pengunjung dapat menjelajahi ruang baca yang ikonis serta menaiki menaranya untuk menikmati pemandangan kota Leuven dari ketinggian.

Selain jejak sejarah arsitektur tersebut, Leuven juga merupakan saksi penting sejarah ilmu pengetahuan dunia; di sinilah profesor KU Leuven, Georges Lemaître, pertama kali mencetuskan teori Big Bang pada tahun 1931. Bagi mahasiswa yang ingin menelusuri jejak sejarah ini, tersedia aplikasi tur jalan kaki mandiri dari KU Leuven yang sangat memudahkan kita menemukan berbagai landmark serta situs warisan universitas yang mungkin terlewatkan.
Keunggulan terakhir yang membuat menetap di Leuven menjadi pengalaman tak terlupakan adalah posisi geografisnya yang strategis. Berada di jantung blok Benelux dan wilayah Schengen menjadikan kota ini titik keberangkatan yang ideal. Dari stasiun Martelarenplein, perjalanan menuju Brussels, kota-kota besar di Belgia, hingga negara tetangga dapat dilakukan dengan mudah menggunakan kereta maupun bus dengan tarif yang sangat terjangkau. Privilese izin tinggal di Belgia memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi wilayah Eropa kapan saja di akhir pekan, tanpa harus terkendala birokrasi visa tambahan yang rumit.