Nafa Nabilah, Mahasiswa Magister Interdisciplinary
Islamic Studies Konsentrasi Islamic Thought and Muslim Societies
Leuven, Belgia - Mengikuti program Student Exchange, kolaborasi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Katholieke Universiteit (KU) Leuven, Belgia, menjadi kesempatan berharga bagi saya. Ini momen yang tepat untuk merasakan atmosfer akademik internasional sekaligus memperluas jejaring keilmuan. Saya tiba di Leuven 6 Juni 2026, rencananya, selama dua bulan ke depan, saya akan menjalani kegiatan akademik dengan fokus pada pengembangan riset tesis di kampus ini.
Beruntung, saya tiba di Belgia saat musim panas. Waktu yang ideal untuk mengikuti program student exchange di Eropa, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari negara tropis. Pasalnya pada momen summer, suhu rata-rata berada pada kisaran 19–26°C. Cuaca yang bersahabat, membuat aktivitas akademik maupun eksplorasi kota dapat dilakukan lebih leluasa dibandingkan pada musim dingin.
Berbeda dengan bayangan sebagian orang bahwa kampus akan kosong saat libur musim panas, suasana di Belgia justru terasa semakin semarak. Sebagian besar mahasiswa memang telah menyelesaikan ujian dan pulang ke asalnya masing-masing. Namun, kampus tetap hidup oleh kehadiran visiting scholar serta mahasiswa pertukaran dari berbagai belahan dunia.
Kota Leuven mungkin bukan destinasi pertama yang terlintas ketika orang membicarakan Belgia. Namun, justru di kota kecil inilah ribuan mahasiswa dari berbagai belahan dunia berkumpul.
Mengikuti student exchange pada musim panas memungkinkan mahasiswa tetap menjalani perkuliahan semester reguler di kampus asal tanpa kehilangan waktu belajar, sementara kegiatan penelitian dan penyelesaian tesis menjadi lebih fleksibel.
Baca Juga: Memoar Singkat Mahasiswa Sandwich Programme di Kampus Tertua Belgia
Ritme Kehidupan Mahasiswa Pertukaran
Kawasan di sekitar Leuven memiliki tingkat polusi yang rendah. Maklum, struktur kotanya ramah bagi pejalan kaki. Transportasi umum pun mudah diakses sehingga hanya ada sedikit kendaraan pribadi yang berlalu-lalang.
Meskipun nyaman untuk ditinggali, awal menjadi mahasiswa internasional, ada beberapa hal penting yang cukup menantang yang harus saya lalui. Mulai dari mengurus izin tinggal (Annex 3), mengaktifkan kartu transportasi umum, hingga memahami sistem pemilahan dan pengambilan sampah. Urusan pemilahan sampah di kota ini, jauh lebih rinci daripada sekadar organik dan anorganik.
Selain itu, di sini, ada beberapa kebiasaan baru yang saya miliki, mulai terbiasa menyusun kegiatan harian, memasak sendiri, hingga membandingkan harga di beberapa supermarket karena makanan halal masih tergolong mahal dan membutuhkan ketelitian dalam memilih produk.
Baca Juga: Pengalaman Mendapatkan Fellowship di Austrian Academy of Sciences (ÖAW)
Bimbingan Riset dan Kualitas Akademik KU Leuven
Selama dua bulan di Ku Leuven, riset saya akan dibimbing oleh Prof. Amr Ryad, Professor of Arabic and Islamic Studies di kampus ini. Meskipun sedang memasuki masa libur musim panas, beliau tetap meluangkan waktu untuk berdiskusi, memberikan masukan, serta meninjau perkembangan tesis saya secara berkala. Pendampingan tersebut tentu menjadi pengalaman akademik yang sangat berkesan.
KU Leuven tenar dengan kualitas akademiknya yang mumpuni. Pada QS World University Rankings 2026 for subject Theology, Divinity, and Religious Studies, KU Leuven menempati peringkat kedelapan dunia dengan academic reputation 94,2 dan overall score 85,6. Hal tersebut tentunya didukung oleh database IBIS (International Book Information Service) dan pendampingan oleh academic staff yang serius. Melalui fasilitas perpustakaan yang diberikan, saya dapat dengan mudah membaca koleksi literatur dan memperoleh berbagai referensi yang sebelumnya sulit diakses. KU Leuven juga menyediakan lisensi untuk berbagai software analisis data dan penelitian yang bisa diunduh atau diaksses oleh staf dan mahasiswa
Kegiatan Outdoor yang Variatif
Bagi saya yang datang sebagai mahasiswa pertukaran, summer menjadi babak baru yang unik dalam hidup, cuaca yang hampir mirip dengan Indonesia membuat saya mudah beradaptasi dan betah.
Selama summer, hal lain yang cukup menantang bagi saya adalah waktu siang yang panjang. Matahari sudah terbit sekitar pukul 5 pagi dan baru terbenam mendekati pukul 10 malam. Cahaya yang bertahan begitu lama membuat hari terasa lebih panjang. Tak heran, banyak mahasiswa atau pekerja yang memilih menghabiskan sore dengan bermain boomerang, sepak bola, padel, maupun tenis. Tidak hanya itu, perhelatan FIFA World Cup 2026 terasa semarak di Leuven. Bendera Belgia berkibar dimana-mana, etalase toko dipenuhi aksesori bertema sepak bola, sementara jersey tim nasional menjadi pemandangan yang lazim di ruang publik. Hampir setiap malam, muda-mudi berbondong-bondong memenuhi bar dan jalan di Oude Markt, Leuven untuk menonton bola dan bereuforia bersama.


Work-life Balance yang Diidamkan
Satu hal yang cukup berkesan bagi saya selama tinggal di Belgia adalah budaya work-life balance yang begitu dijaga. Sebagian swalayan dan gerai rata-rata sudah tutup pukul 6 sore, meskipun masih terdapat beberapa minimarket yang buka hingga 9 malam. Ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang bahkan sampai ada slogan “tutup kalau kiamat”.
