Dilihat 0 Kali

001_270_Picture1.png

Minggu, 12 Juli 2026 16:35:00 WIB

Summer di Leuven: Belajar, Beradaptasi, dan Menemukan Ritme Baru sebagai Mahasiswa Student Exchange

Nafa Nabilah, Mahasiswa Magister Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Islamic Thought and Muslim Societies

Leuven, Belgia - Mengikuti program Student Exchange, kolaborasi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan  Katholieke Universiteit (KU) Leuven, Belgia,  menjadi kesempatan berharga bagi saya. Ini momen yang tepat untuk merasakan atmosfer akademik internasional sekaligus memperluas jejaring keilmuan. Saya tiba di Leuven 6 Juni 2026, rencananya, selama dua bulan ke depan, saya akan menjalani kegiatan akademik dengan fokus pada pengembangan riset tesis di kampus ini.

Beruntung, saya tiba di Belgia saat musim panas. Waktu yang ideal untuk mengikuti program student exchange di Eropa, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari negara tropis. Pasalnya pada momen summer, suhu rata-rata berada pada kisaran 19–26°C. Cuaca yang bersahabat, membuat aktivitas akademik maupun eksplorasi kota dapat dilakukan lebih leluasa dibandingkan pada musim dingin.

Berbeda dengan bayangan sebagian orang bahwa kampus akan kosong saat libur musim panas, suasana di Belgia justru terasa semakin semarak. Sebagian besar mahasiswa memang telah menyelesaikan ujian dan pulang ke asalnya masing-masing. Namun, kampus tetap hidup oleh kehadiran visiting scholar serta mahasiswa pertukaran dari berbagai belahan dunia. 

Kota Leuven mungkin bukan destinasi pertama yang terlintas ketika orang membicarakan Belgia. Namun, justru di kota kecil inilah ribuan mahasiswa dari berbagai belahan dunia berkumpul. 

Mengikuti student exchange pada musim panas memungkinkan mahasiswa tetap menjalani perkuliahan semester reguler di kampus asal tanpa kehilangan waktu belajar, sementara kegiatan penelitian dan penyelesaian tesis menjadi lebih fleksibel.

Baca Juga: Memoar Singkat Mahasiswa Sandwich Programme di Kampus Tertua Belgia

Ritme Kehidupan Mahasiswa Pertukaran

Kawasan di sekitar Leuven memiliki tingkat polusi yang rendah. Maklum, struktur kotanya ramah bagi pejalan kaki. Transportasi umum pun mudah diakses sehingga hanya ada sedikit kendaraan pribadi yang berlalu-lalang. 

Meskipun nyaman untuk ditinggali, awal menjadi mahasiswa internasional, ada beberapa hal penting yang cukup menantang yang harus saya lalui. Mulai dari mengurus izin tinggal (Annex 3), mengaktifkan kartu transportasi umum, hingga memahami sistem pemilahan dan pengambilan sampah. Urusan pemilahan sampah di kota ini, jauh lebih rinci daripada sekadar organik dan anorganik.

Selain itu, di sini, ada beberapa kebiasaan baru yang saya miliki, mulai terbiasa menyusun kegiatan harian, memasak sendiri, hingga membandingkan harga di beberapa supermarket karena makanan halal masih tergolong mahal dan membutuhkan ketelitian dalam memilih produk.

Baca Juga: Pengalaman Mendapatkan Fellowship di Austrian Academy of Sciences (ÖAW)

Bimbingan Riset dan Kualitas Akademik KU Leuven

Selama dua bulan di Ku Leuven, riset saya akan dibimbing oleh Prof. Amr Ryad, Professor of Arabic and Islamic Studies di kampus ini. Meskipun sedang memasuki masa libur musim panas, beliau tetap meluangkan waktu untuk berdiskusi, memberikan masukan, serta meninjau perkembangan tesis saya secara berkala. Pendampingan tersebut tentu menjadi pengalaman akademik yang sangat berkesan.

KU Leuven tenar dengan kualitas akademiknya yang mumpuni. Pada QS World University Rankings 2026 for subject Theology, Divinity, and Religious Studies, KU Leuven menempati peringkat kedelapan dunia dengan academic reputation 94,2 dan overall score 85,6. Hal tersebut tentunya didukung oleh database IBIS (International Book Information Service) dan pendampingan oleh academic staff yang serius. Melalui fasilitas perpustakaan yang diberikan, saya dapat dengan mudah membaca koleksi literatur dan memperoleh berbagai referensi yang sebelumnya sulit diakses. KU Leuven juga menyediakan lisensi untuk berbagai software analisis data dan penelitian yang bisa diunduh atau diaksses oleh staf dan mahasiswa

Kegiatan Outdoor yang Variatif

Bagi saya yang datang sebagai mahasiswa pertukaran, summer menjadi babak baru yang unik dalam hidup, cuaca yang hampir mirip dengan Indonesia membuat saya mudah beradaptasi dan betah.  

Selama summer, hal lain yang cukup menantang bagi saya adalah waktu siang yang panjang. Matahari sudah terbit sekitar pukul 5 pagi dan baru terbenam mendekati pukul 10 malam. Cahaya yang bertahan begitu lama membuat hari terasa lebih panjang. Tak heran, banyak mahasiswa atau pekerja yang memilih menghabiskan sore dengan bermain boomerang, sepak bola, padel, maupun tenis. Tidak hanya itu, perhelatan FIFA World Cup 2026 terasa semarak di Leuven. Bendera Belgia berkibar dimana-mana, etalase toko dipenuhi aksesori bertema sepak bola, sementara jersey tim nasional menjadi pemandangan yang lazim di ruang publik. Hampir setiap malam, muda-mudi berbondong-bondong memenuhi bar dan jalan di Oude Markt, Leuven untuk menonton bola dan bereuforia bersama.


Bagi saya yang seorang muslim, tantangan lainnya selama di sini yakni perbedaan waktu salat selama musim panas. Bayangkan saja, di Indonesia selepas Isya pukul 7 malam, kami bisa langsung beristirahat. Tapi di Leuven, salat Isya baru bisa dilaksanakan sekitar pukul 12 malam. Bersiap bergadang saja kalau tidak mau ketinggalan salat. Kemudian pukul 3-4 dini hari, kami sudah harus terbangun untuk salat subuh. 

Waktu awal-awal kami sampai, cuaca masih terhitung dingin untuk ukuran summer, sekitar 12°C. Dinginnya air dan udara serasa memeluk tubuh seharian penuh. Namun keadaan berangsur menghangat bahkan pernah sangat panas mencapai 38°C. Beberapa negara Eropa mengalami heatwave, dimana keadaan terasa panas dan kering, berbeda dengan Indonesia yang meskipun panas namun tetap lembab. Di waktu-waktu tersebut, kami lebih memilih untuk mengerjakan tesis di dalam ruangan daripada beraktivitas di luar.



Kami sempat mengunjungi beberapa tempat menarik yang tidak terlalu jauh dari lokasi kami tinggal. Letak Belgia yang berada di jantung Eropa membuat musim panas menjadi  waktu yang pas untuk menikmati perjalanan ke berbagai kota di Belgia dan negara tetangga. Perjalanan terasa begitu mudah dengan hanya ditempuh beberapa jam menggunakan kereta maupun bis. Bahkan dalam satu hari kami dapat mengunjungi 4 kota di Belgia tanpa harus menginap. 

Leuven dengan ketenangan dan akademiknya, Oostende dengan pesisirnya, Brugge dengan suasanya fairy tale-nya, dan Ghent dengan gereja dan bangunan bernuansa gothic yang semakin indah selepas hujan. Sungguh pengalaman yang menakjubkan! Perjalanan singkat itu tidak hanya menikmati tempat-tempat baru, tetapi juga belajar bagaimana setiap kota memiliki karakter dan sejarahnya sendiri.

Work-life Balance yang Diidamkan 

Satu hal yang cukup berkesan bagi saya selama tinggal di Belgia adalah budaya work-life balance yang begitu dijaga. Sebagian swalayan dan gerai rata-rata sudah tutup pukul 6 sore, meskipun masih terdapat beberapa minimarket yang buka hingga 9 malam. Ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang bahkan sampai ada slogan “tutup kalau kiamat”. 

Pada hari Minggu swalayan banyak yang tutup dan jadwal bus semakin jarang. Mayoritas penduduk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan mahasiswa pulang ke kota asal untuk bertemu dengan keluarga.




Namun, keseimbangan hidup itu bukan berarti mereka santai dalam urusan akademik. Ketika musim ujian tiba, mahasiswa di Leuven sangat fokus belajar, bahkan tidak jarang akan menolak apabila ada ajakan hangout. Mereka biasanya rela mengantre untuk reservasi kursi-kursi perpustakaan fakultas maupun kampus. Bahkan, mereka akan berlatih untuk oral exam hingga larut malam.

Atmosfer akademik di KU Leuven terkenal strict dan challenging dengan skala nilai menggunakan rentang 0 hingga 20.

"Nilai kelulusan minimum adalah 10, tetapi mendapatkan nilai 14 saja sudah merupakan pencapaian yang sangat baik," ucap seorang alumni doktoral yang secara tidak sengaja saya temui di Arenberg.

Budaya akademik menuntut mahasiswa untuk siap belajar intensif dan saya mendapati selebaran poster untuk digunakan sebagai manajemen waktu ujian. Namun, setelah ujian yang stressful itu, mereka bergembira, ada yang keluar kota atau melancong ke luar negeri, nongkrong di kafe, maupun pesta kecil-kecilan bersama teman. Terlepas dari beban studinya, Leuven adalah kota pelajar yang sangat luar biasa dengan sejarah panjang dan kualitas hidup tinggi.

Program Student Exchange ini mungkin hanya berlangsung selama dua bulan. Namun, pengalaman belajar, riset, dan kehidupan lintas budaya yang saya peroleh di Leuven akan menjadi bekal penting untuk pengembangan akademik sekaligus memperkaya perspektif sebagai mahasiswa di tingkat pascasarjana.