Dilihat 0 Kali

001_704_jjj.jpg

Senin, 02 Maret 2026 16:54:00 WIB

GRS Ramadan (3): Mendaras Risalah Ibn ʿArabī Kepada Fakhruddin al-Rāzī

Yogyakarta, Jum’at, 27 Februari 2026 - Melanjutkan rangkaian kegiatan Graduate Reading Space (GRS) edisi Ramadan, Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) menghadirkan Dr. M. Yunus Masrukhin, PhD., sebagai narasumber untuk membacakan kitab Risālah Shaikh al-Akbar Ibn ʿArabī Ila al-Imām Fakhr al-Dīn al-Rāzī, sebuah dokumen surat yang merangkum interaksi kedua tokoh besar pada abad ke-7 H. 

Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, kajian kali ini digelar secara lesehan karena Aula Pascasarjana tengah dalam proses renovasi dan kursi-kursinya telah dievakuasi. Suasana tersebut justru menghadirkan kesan yang lebih intim dan rileks, tanpa mengurangi kedalaman serta substansi pembahasan.

Bertemakan diskursus tasawuf dan filsafat Islam, Dr. Yunus  —dosen yang background studinya menggeluti dua isu tersebut —menjelaskan dengan komprehensif dan detail tentang sosok Ibn ʿArabī dan al-Rāzī, masing-masing dengan karakter epistemik yang berbeda. Nama pertama merepresentasikan tradisi sufistik yang menekankan dimensi spiritualitas, nama terakhir mencerminkan blueprint seorang filsuf dan teolog dogmatis yang mengedepankan horizon rasionalitas.

“Semua ilmu yang disentuh oleh Ibn ʿArabī akan bernuansa tasawuf; semua ilmu yang disentuh al-Rāzī akan terasa filosofis”, tutur Dr. Yunus. 

Sebelum membacakan literatur terkait, Pak Yunus memberikan pengantar mengapa tema ini menjadi menarik dan penting. Salah satunya, saat Ibn ʿArabī menulis risalah ini, dia belum menjadi seorang sufi dengan ortodoksi yang establish. Sebaliknya, al-Rāzī sudah mencapai kedudukan otoritatif dan dipandang sebagai cendekiawan arus utama. Alhasil, risālah ini semacam surat dari golongan muda kepada golongan tua. 

Lebih jauh, risālah ini terasa cukup mistik karena ditulis saat al-Rāzī sedang berada dalam fase krisis epistemologis. Secara intuitif, Ibn ʿArabī mendeteksi adanya krisis tersebut dan berinisiatif mengirimkan pelipur lara dan obat bagi gejala yang dialami al-Rāzī. 

Dr. Yunus mengawali pembacaan risālah dengan mengirimkan al-Fātiḥah kepada dua ulama tersebut. Ia lalu membacakan risalah secara text-by-text, seraya memberikan komentar pada diksi-diksi yang sulit dipahami. Salah satu poin yang di-highlight adalah narasi ketika Ibn ʿArabī menyebut nama Imam al-Ghazālī. 

Bagi Ibn ʿArabī, pendekatan rasionalitas yang digaungkan para teolog, alih-alih memberikan kejelasan dan kedekatan dengan Tuhan yang transendental, justru kerap kali menjauhkan pembaca dari kehadiran-Nya. Mayoritas teolog terjebak dalam problem ini, kecuali al-Ghazālī yang berhasil merekonsiliasi dan menyeimbangkan dua dimensi tersebut.

“Al-Ghazālī adalah satu-satunya teolog yang Ibn ʿArabi menaruh respect kepadanya,” jelas Dr. Yunus. 

Usai pemaparan panjang Dr. Yunus, acara ditutup dengan sesi diskusi. Walaupun guyuran hujan sempat membuat agenda terjeda, namun antusias peserta tidak surut. Beberapa pertanyaan yang diajukan menunjukkan ketertarikan mereka pada tema yang diusung.  


(KMP : Divisi RPM)