Dilihat 0 Kali

001_168_grs3.jpg

Rabu, 04 Maret 2026 12:17:00 WIB

GRS Ramadan (4) : Menelaah Kritik Tekstual Bible dalam Kitab Izhār al-Ḥaqq

Yogyakarta — Graduate Reading Space (GRS) edisi Ramadan kembali digelar pada Senin, 02 Maret 2026, di ruang 206 Pascasarjana. Perpindahan lokasi ini dilakukan karena Aula Pascasarjana tengah dalam proses renovasi. Pada edisi kali ini, forum diskusi yang diinisiasi oleh KMP menghadirkan Dr. Zulfikar Ismail untuk membedah Bab 4 kitab Izhār al-Ḥaqq karya Rahmatullah al-Hindi.

Permulaan pengkajian, Dr. Zulfikar mengarahkan perhatian pada judul bab yang cukup panjang: bayāni annahu lā majāla li-ahl al-kitāb an yadda‘ū anna kulla kitābin min kutubi al-‘ahd al-‘atīq wa al-jadīd kutiba bi al-ilhām. Ia menjelaskan bahwa inti pembahasan bab ini membahas tentang kritik terhadap klaim bahwa seluruh isi Bible—baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru—ditulis sepenuhnya berdasarkan inspirasi langsung dari Tuhan tanpa keterlibatan proses historis.

Melalui penjelasan yang komprehensif, Dr. Zulfikar menunjukkan bagaimana Rahmatullah membangun kritiknya. Pertama, ia mengangkat persoalan otoritas penulis. Dalam Taurat, menurut Rahmatullah, tidak ditemukan pernyataan eksplisit bahwa Nabi Musa menulis seluruh isi kitab tersebut. Begitu pula dalam Injil, tidak terdapat keterangan langsung yang memastikan bahwa setiap teks ditulis oleh tokoh yang selama ini diyakini sebagai pengarangnya. Dari titik ini, Rahmatullah mempertanyakan dasar teologis yang menyatakan seluruh teks Bible turun secara langsung sebagai wahyu.

Dr. Zulfikar kemudian membawa peserta pada pembahasan doktrin Trinitas. Dalam penjelasannya, Rahmatullah menilai bahwa konsep Tuhan sebagai “tiga dalam satu” tidak dirumuskan secara eksplisit dalam teks Injil, melainkan berkembang melalui konstruksi teologis di kemudian hari. Dengan kata lain, menurut Rahmatullah, terdapat perbedaan antara teks dan formulasi doktrin yang lahir dari proses sejarah. Alasan ini berkembang dari pemikiran masyarakat agar mudah dalam memvisualisasikan Tuhan, sehingga Tuhan digambarkan dengan Trinitas.

Tidak berhenti pada kritik, Dr. Zulfikar juga memaparkan bagaimana cara melihat Al-Qur’an sebagai mukjizat. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an ditulis dan dihafal sejak masa Nabi Muhammad oleh banyak sahabat, lalu diriwayatkan secara mutawatir—yakni melalui jalur periwayatan yang banyak dan berlapis—sehingga terjaga dalam lafaz dan maknanya. Selain itu, aspek kebahasaan Al-Qur’an disebut sebagai salah satu bentuk kemukjizatan yang tidak tertandingi.

Dalam sesi diskusi, Zaky sebagai moderator mengarahkan pertanyaan kepada audiens—pertanyaannya tentang isu kemaksuman Nabi Muhammad dan konsep syafaat. Kemudian, pertanyaan berkembang pada kemungkinan memahami syafaat sebagai bentuk nepotisme. Menanggapi hal ini, Dr. Zulfikar menegaskan bahwa syafaat memang memiliki unsur nepotisme dan nepotisme diperbolehkan jika berada dalam koridor dan berpijak dalam prinsip profesionalitas.

Menjelang akhir, Zaky menyampaikan bahwa Izhār al-Ḥaqq memiliki corak apologetik karena ditulis dalam konteks pembelaan terhadap Islam. Namun, melalui pembacaan yang dipandu langsung oleh Dr. Zulfikar, peserta diajak melihat bahwa karya Rahmatullah al-Hindi tidak sekadar bersifat polemis, melainkan juga menunjukkan upaya penggunaan pendekatan ilmiah—termasuk rujukan Barat—dalam membangun kritik tekstual.

Dalam diskusi ini, KMP tidak hanya menginisiasi ruang membaca teks klasik, tetapi juga wadah untuk menelaah tradisi keilmuan Islam secara kritis dan interdisipliner.

(KMP: Divisi RPM)