Yogyakarta – Rangkaian kegiatan GRS (Graduate Reading Space) Edisi Ramadan akhirnya mencapai puncaknya. Kamis (12/03/2026), bertempat di Aula Pascasarjana, salah satu program kerja utama KMP ini resmi ditutup dengan menghadirkan Prof. KH. Machasin, M.A. sebagai narasumber.
Berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang secara rutin mengkaji al-Turath wa al-Tajdid karya Hassan Hanafi, pada kesempatan kali ini Prof. Machasin mengulas pemikiran tokoh lain yang juga menjadi rekan intelektual Hanafi, yakni ʿAbid al-Jabiri. Fokus pembahasan diarahkan pada salah satu karya pentingnya, al-ʿAql al-Siyāsī al-ʿArabī.
Karya ini, tutur Prof. Machasin, merupakan bagian dari ‘tetralogi’ megaproyek al-Jabiri. Rangkaian karya itu meliputi Bunyat al-ʿAql al-ʿArabī, Takwīn al-ʿAql al-ʿArabī, al-ʿAql al-Siyāsī al-ʿArabī, dan al-ʿAql al-Akhlāqī al-ʿArabī.
Al-Jabiri merupakan pemikir dan filsuf Islam dari Maroko. Salah satu sumbangsih terbesarnya adalah merumuskan nalar pengetahuan Islam. Ia membagi struktur epistemologi didasarkan pada tiga jenis pengetahuan: bayani, irfani, dan burhani.
Secara garis besar, karya-karyanya menjelaskan bahwa bahwa lanskap politik Islam sejak masa pasca-kenabian dipengaruhi oleh dua kerangka besar, yaitu muhaddidat (faktor-faktor determinan) dan tajalliyyat (manifestasi historisnya).
Menurut al-Jabiri, dalam konteks bangsa Arab terdapat tiga unsur utama yang membentuk dinamika politik, yaitu ʿaqidah (keyakinan), qabilah (kesukuan), dan ghanimah (pembagian harta). Ketiga unsur ini memainkan peran signifikan dalam menentukan bagaimana mereka membangun, menentang, dan menentukan arah perjalanan dinasti politik.
Manifestasi ketiganya tampak jelas ketika memperhatikan transisi dan konvergensi ideologi antardinasti. Dalam pandangan al-Jabiri, ada empat pola manifestasi: politik kerajaan, mitologi imamah Syi'ah, semangat pencerahan, dan kebangkitan fikih politik. Setiap dinasti, menurutnya, selalu membangun patronase politik yang melibatkan aspek-aspek tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, Prof. Machasin berupaya mengaitkan narasi sejarah tersebut dengan situasi politik hari ini. Baik dalam konteks keindonesiaan maupun konstelasi geopolitik, terutama yang terjadi di Timur Tengah belakangan. Pendekatan ini membantu audiens bisa lebih mudah mengontekstualisasikan narasi sejarah dengan gambaran yang lebih dekat.
Antusiasme peserta terlihat dari sesi diskusi yang berlangsung dinamis. Salah satu pertanyaan diajukan oleh salah satu dosen yang ikut hadir dalam acara, Ahmad Rafiq, Ph.D., yang menyinggung sistem politik kenegaraan berbasis otoritas pemimpin tertinggi seperti yang diterapkan di Iran melalui konsep wilayat al-faqih.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Machasin memberikan analogi yang sederhana. Menurutnya, dalam beberapa aspek, sistem tersebut memiliki kemiripan dengan struktur organisasi di Nahdlatul Ulama (NU). Kendatipun disebut pemimpin tertinggi, namun kedudukan karirnya ditentukan oleh para penasehat yang berdiri di belakangnya. Alhasil, istilah tertinggi disini tidak bermakna mutlak tanpa batasan sama sekali.
Penutupan GRS Ramadan tahun ini menjadi semakin istimewa karena sekaligus dirangkai dengan tasyakuran Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) yang baru saja meraih akreditasi Unggul.
Pada kesempatan tersebut juga diumumkan rencana pembukaan prodi baru, yaitu Dirasat Islamiyah, yang akan berfokus pada kajian literatur turath.
Dalam sambutannya, Direktur Pascasarjana Prof. Nur Ichwan menyampaikan, prodi baru tersebut diharapkan mengakomodir mahasiswa lulusan Timur Tengah dan Ma'had Aly dalam mengembangkan khazanah intelektual Islam klasik.
"Kedepannya prodi baru ini akan dimotori oleh Dr. Yunus Masrukhin,” kata dia.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan buka puasa bersama. Di penghujung acara, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi turut hadir menyapa jajaran pimpinan dan tenaga kependidikan Pascasarjana.