Dilihat 0 Kali

001_774_GRS prof wahyu.jpg

Rabu, 03 Juni 2026 20:44:00 WIB

Graduate Reading Space: Melawan Arus Modernisme melalui Pemikiran Seyyed Hossein Nasr

Yogyakarta — Forum diskusi Graduate Reading Space (GRS) kembali diselenggarakan oleh KMP pada hari Selasa, 2 Juni 2026, bertempat di Aula Pascasarjana. Diskusi yang dihadiri puluhan mahasiswa lintas fakultas ini menghadirkan Prof. Wahyuddin, Ph.D., dosen dari UIN Alauddin Makassar, yang dimoderatori oleh R. Naufalul Khoir untuk membedah pemikiran Seyyed Hossein Nasr lewat karyanya yang berjudul Ideals and Realities of Islam.

Mengawali kajian, Prof. Wahyuddin menyampaikan ketertarikannya pada pemikiran Seyyed Hossein Nasr yang terbukti mampu mengubah perspektifnya tentang Islam. Ia membagikan pengalaman perjumpaan personalnya dengan tokoh tersebut ditandai tanda tangan cap basah dalam beberapa bukunya. Menariknya, meski Knowledge and the Sacred (1981) diakui sebagai karya utama (masterpiece) yang sangat filosofis, Prof. Wahyuddin mengaku secara personal paling menyukai buku The Garden of Truth.

Dalam buku Ideals and Realities of Islam, Prof. Wahyuddin menjelaskan bahwa karya ini berawal saat Seyyed Hossein Nasr menjadi dosen tamu di University of Beirut. Saat itu, Nasr merasa prihatin melihat generasi muda Muslim didikan modern yang tidak memiliki bekal intelektual memadai untuk menghadapi arus modernisme Barat. Dari sanalah muncul tesis utamanya dalam buku ini: Islam adalah agama wahyu, bukan sekadar agama budaya. Ia secara tajam menyoroti adanya kesenjangan antara cita-cita (idealitas) yang diwahyukan oleh Tuhan dengan realitas yang saat ini dipraktikkan oleh umat.

Baca Juga: Membaca Sulawesi sebagai Pusat Produksi Pengetahuan Islam di Indonesia Timur

Lebih lanjut, dalam ulasan bab pertama dan kedua, ditekankan bahwa syariat perlu dipahami secara luas dalam konteks kosmologis dan eskatologis. Diskusi kemudian menelaah salah satu gagasan menarik dari Nasr, yakni seruannya untuk berhenti mengadopsi sekularisme. Ia menentang keras politik praktis dan lebih memilih interpretasinya sendiri yang berfokus pada perbaikan kesadaran spiritual. Selain itu, beliau juga memaparkan tesis tajam bahwa krisis ekologis yang melanda dunia saat ini sejatinya berakar dari krisis spiritual manusia.

Sisi lain yang sangat menarik dari buku ini, menurut Prof. Wahyuddin, ada pada bab terakhir yang secara khusus mengkaji tradisi Sunni dan Syiah. Meski Nasr berasal dari Iran dan berideologi Syiah, ia tetap mampu menulis dan memposisikan pemahamannya secara inklusif dan berimbang.

Baca Juga: Graduate Reading Space: Menelaah Al-Turats wa al-Tajdid dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Pembacaan karya Nasr diakhiri dengan antusiasme peserta dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Salah satu audiens, Ainun, melontarkan pertanyaan: apakah dengan menyelami pemikiran Seyyed Hossein Nasr akan membuat kita menjadi tidak kritis dan sekadar "memilih mencari makna"? Ia juga mempertanyakan pandangan beliau terkait isu perempuan. Hal ini memantik diskusi interaktif tentang berbagai metode beragama di dunia yang berbeda-beda, di mana tujuannya tetap sama meski pendekatannya berbeda.

Di akhir acara, KMP secara khusus memberikan apresiasi atas kehadiran Prof. Wahyuddin, Ph.D. Inisiatif KMP mengundang dosen dari UIN Alauddin Makassar sebagai pemantik ini memberikan nuansa yang segar dan berbeda dibandingkan sesi-sesi sebelumnya, yang biasanya hanya menghadirkan dosen-dosen dari internal Pascasarjana. Melalui forum ini, KMP kembali membuktikan komitmennya dalam merawat ruang diskusi untuk membaca teks-teks tradisi keilmuan Islam secara kritis dan mendalam. (KMP)