Yogyakarta — Graduate Reading Space kembali dilaksanakan di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga pada Senin, 05 Oktober 2026. Diskusi ini melanjutkan hasil pembacaan buku Hassan Hanafi, Al-Turast wa Al-Tajdid, yang diampu oleh Prof. Dr. Machasin, M.A. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Pascasarjana, baik jenjang magister maupun doktoral, serta mahasiswa dari fakultas di luar Pascasarjana.
Mengawali diskusi, Prof. Machasin menekankan kembali bahwa persoalan Al-Turast wa Al-Tajdid adalah bagaimana meninjau kembali berbagai persoalan yang diperbincangkan, sembari memilih bagian tertentu yang masih relevan dari masa lalu untuk konteks kebutuhan saat ini. Diskursus teologi klasik, misalnya, terlalu memberikan perhatian utama terhadap masalah ketuhanan sehingga meminggirkan peranan dan kreatifitas manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian teolog Asy’ariyah. Menurutnya, pendekatan tersebut kehilangan relevansinya, sebab konteks yang dihadapi oleh umat hari ini adalah keterbelakangan akibat hilangnya kreatifitas dan kecenderungan menyerahkan segala persoalan kepada Tuhan.
Kesalahan kita hari ini adalah mencari jawaban atas permasalahan masa sekarang dari masa lalu yang memiliki konteks berbeda. Salah satu contoh yang ia berikan, adalah persoalan sifat dua puluh Tuhan yang hingga kini masih banyak diperbincangkan. Menurut Prof Machasin, tidak ada yang salah dengan pembahasan ini. Namun, yang lebih penting adakah keterkaitan pembahasan tersebut dengan problem nyata masyarakat.
Beliau menambahkan, yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah ketimpangan sosial, pejabat korup, hilangnya etika dari masyarakat, pejabat, bahkan para tokoh agamanya. Karena itu, perlu dipertanyakan kembali, apa jalan keluar yang telah diberikan oleh turats kepada masalah umat saat ini?
Menurut Prof. Machasin, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa umat Islam tertinggal. Kebanyakan umat Islam menolak untuk menghadapi masalah secara langsung dan mencari solusi yang diperlukan sesuai kebutuhan zaman. Sebaliknya, umat justru beralih pada pemikiran yang diwariskan turats meskipun konteks dan solusi mungkin berbeda dan tidak sesuai.
"Persoalan kita bukan untuk memuliakan agama, tapi bagaimana memajukan bumi dan mengurus bangsa," tegasnya.
Dengan demikian, persoalan umat bukan semata-mata persoalan agama, tapi masalah kebangsaaan, politik, seni, dan sejarah. Memperbarui turats berarti mempelajari dimensi sosial yang terkandung di dalamnya. Karena itu, menurut Prof Machasin, perlu melakukan pembedaan antara agama di satu sisi dan turats di sisi lain. Sebab, yang membuat umat lemah bukanlah agama, tapi turats yang diadopsi tanpa memperhatikan konteks dan kebutuhan zaman.
Prof. Machasin menambahkan, salah satu penekanan Hanafi adalah pembelaan terhadap para kaum Mustadh’afin. Ia mengisahkan, mengenai Gus Dur yang ikut salah satu perkuliahan Hasan Hanafi di Mesir. Saat itu, Gus Dur bertanya, kenapa pembahasan yang dibicarakan selalu tentang manusia bukan tentang Tuhan. Hassan Hanafi kemudian menjawab, "Tuhan tidak perlu dibela".
Namun demikian, Prof. Machasin menegaskan, tidak mudah membela orang yang lemah dan tertindas. Sebaliknya, membela orang kuat lebih mudah dilakukan karena seringkali ada keuntungan yang ditawarkan. Dalam beragama, menurutnya, yang dibutuhkan tidak hanya dimensi formal, tetapi juga penguatan dimensi etis.
Diskusi yang berjalan selama satu jam setenggah tersebut berjalan dengan khidmat. Setelah sesi pembacaan kitab selesai, diskusi dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif yang dilakukan oleh para audien dengan Prof. Machasin. Sesi dialog tersebut turut memperkaya beberapa poin kritik yang dilakukan oleh Hassan Hanafi terhadap turats dan etika beragama umat dalam menghadapi permasalahan saat ini.