Dilihat 0 Kali

001_837_WhatsApp Image 2026-10-29 at 14.04.34.jpeg

Sabtu, 10 Oktober 2026 16:34:00 WIB

Graduate Reading Space: Mengkaji Le Nouveau Capital dalam Karya Pierre Bourdieu

Yogyakarta — Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga melalui Divisi Research dan Inovasi Akademik Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar agenda rutin Graduate Reading Space (GRS) pada Jumat, 9 Oktober 2026. Acara ini bertempat di Aula Lantai 1 Gedung Pascasarjana.

Jika biasanya forum ini mengkaji teks berbahasa Arab atau Inggris, maka GRS edisi kali ini menyuguhkan pengalaman spesial dengan membedah langsung teks berbahasa Prancis asli karya Pierre Bourdieu. Melalui tradisi Bandongan, yaitu membaca dan menerjemahkan teks otentik kata demi kata serta kalimat demi kalimat, para peserta diajak menguliti secara ketat bagaimana sebuah argumen dibangun, diargumenkan dan dinarasikan oleh penulisnya.

Sebagai pembuka, Dr. Suhadi menekankan pentingnya mengembalikan ruang akademik pada tradisi pembacaan teks secara mendalam di tengah gempuran digitalisasi kecerdasan buatan (AI).

"Fenomena membaca teks ini saya kira penting di tengah kuatnya budaya AI, di mana teks sering kali tidak pernah kita baca secara serius dan mendalam. Kita mengambil saripatinya sudah dibantu diperaskan oleh AI, sehingga seolah-olah paham ringkasan dari buku atau artikel jurnal. Saya berkesempatan untuk mengajak belajar memperhatikan kembali teks-teks ini secara langsung," ujar beliau.

Diskusi kali ini berfokus pada pembacaan kritis terhadap karya sosiolog kenamaan asal Prancis, Pierre Bourdieu, dalam bukunya Raisons pratiques: Sur la théorie de l'action, khususnya pada bagian ke-2 yang berjudul Le Nouveau Capital.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa institusi pendidikan sering kali dipandang secara idealis sebagai sarana pencerahan dan pembawa kesetaraan sosial. Namun, pembacaan terhadap pemikiran Bourdieu justru membedah realitas sebaliknya.

"Sekolah itu fungsinya apa? Kan kalau kita kadang-kadang idealis pakai Undang-Undang Dasar mencerdaskan kehidupan bangsa. Kata Bourdieu, sekolah itu berkontribusi untuk melanggengkan modal kultural dan struktur ruang sosial," terang Dr. Suhadi.

Dalam pemahaman ini, Bourdieu membongkar pandangan idealis yang menempatkan sekolah sebagai sarana pemerataan sosial. Menurutnya, sekolah justru bekerja sebagai arena penyortiran yang memvalidasi ketimpangan sejak awal. Anak-anak dari kelas atas datang membawa modal kultural seperti gaya bahasa, wawasan, dan kebiasaan intelektual dari rumah yang kebetulan selaras dengan kriteria penilaian sekolah.

Di saat bersamaan, keluarga bertindak layaknya korporasi yang menginvestasikan modal ekonomi melalui fasilitas belajar mahal demi menjaga hak istimewa keturunannya. Pada akhirnya, sekolah melegitimasi ketimpangan ini dengan mengaitkan keberhasilan sebagai 'bakat alami' dan kegagalan sebagai 'kurangnya usaha', sehingga proses pelanggengan kelas sosial berjalan tanpa disadari sebagai bentuk diskriminasi.

Diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut menegaskan pentingnya keberanian akademisi dalam memanfaatkan teori kritis sebagai pisau analisis sosial. Pembacaan teks secara serius dan mendalam di tengah gempuran instansi serba instan di era kecerdasan buatan (AI) dinilai sangat krusial untuk merawat nuansa intelektualisme di lingkungan Pascasarjana. (KMP)