Yogyakarta – Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan kegiatan Diskusi Keilmuan bertajuk “Studi Islam dan Konstruksi Masa Depan Indonesia” pada Kamis, 2 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Pascasarjana dan menghadirkan Dr. Ahmad Suaedy sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu moderator Syamilul Asror, Mahasiswa S2 Interdisciplinary Islamic Studies (IIS).
Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Suaedy mengulas secara kritis relasi antara ulama, negara, dan kekuasaan dalam sejarah Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejak masa kolonial hingga Orde Baru, telah terjadi pergeseran posisi ulama dari lingkar kekuasaan menjadi bagian dari masyarakat sipil (civil society).
Menurutnya, sejumlah kebijakan negara, termasuk regulasi organisasi kemasyarakatan, turut memengaruhi peran strategis ulama dalam ruang publik. Hal ini berdampak pada melemahnya posisi masyarakat sipil dalam mengawal arah kebijakan negara.
Tantangan Demokrasi dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Lebih lanjut, Dr. Suaedy menyoroti kondisi demokrasi di Indonesia yang dinilai mengalami kemunduran. Ia menegaskan adanya kesenjangan antara hasil kajian akademik dengan kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah.
“Harapan untuk perubahan tidak bisa hanya bergantung pada elite politik, tetapi harus lahir dari perguruan tinggi melalui gagasan-gagasan baru yang melampaui arus utama,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung pengalaman beberapa negara seperti Iran dan Cina yang dinilai mampu mengembangkan model alternatif dalam mengelola hubungan antara negara, masyarakat, dan ilmu pengetahuan.
Isu keadilan sosial menjadi perhatian utama dalam diskusi ini. Dr. Suaedy menilai bahwa sistem yang berjalan saat ini cenderung memperlebar kesenjangan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan paradigma baru yang mengintegrasikan nilai spiritualitas dengan pengembangan ekonomi dan teknologi.
Ia mencontohkan praktik ekonomi kolektif dan kemandirian komunitas sebagai alternatif untuk menciptakan distribusi kesejahteraan yang lebih merata.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, peserta mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait relevansi demokrasi, kontribusi nilai-nilai Islam, hingga posisi organisasi keagamaan dalam membangun masa depan Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Suaedy menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang produksi gagasan kritis. Akademisi dan mahasiswa didorong untuk aktif menulis, meneliti, dan menyuarakan pemikiran alternatif sebagai bagian dari kontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Baca Juga: Call for Papers: Graduate Conference 2026